Menjadi Medioker? Nggak Masalah, Kok!

Kita sering ngerasa, kok orang-orang atau temen-temen kita pada hebat-hebat, ya? Pada kerja di perusahaan ternama atau bahkan jadi penemu sistem operasi terbaik dunia, haha. Padahal kalau boleh jujur, bahkan piala dunia sekali pun hanya dijuarai oleh segelintir negara. Yang tersisih di babak knockout, fase grup, bahkan yang nggak lolos kualifikasi, jauh lebih banyak! Ini bukan tulisan demotivasi loh, ya! Tulisan ini semacam mengingatkan kita untuk boleh-boleh saja berharap, asal tetap menapak tanah dan realistis.

Mungkin kita pernah mendengar istilah "outliers" dari istilah statistik atau buku yang ditulis Malcolm Gladwell. Di situ digambarkan bahwa terdapat beberapa kombinasi faktor internal dan eksternal cukup kompleks yang akhirnya melahirkan orang-orang sukses. Sementara itu, di buku Art of Thinking Clearly karya Rolf Dobelli, dijelaskan bahwa kita harus sering-sering ke "kuburan". Kenapa? Mereka yang gagal ternyata jauh lebih banyak. Selama ini media berperan besar dalam mengglorifikasi kesuksesan para outliers ini. Seolah siapa pun bisa mengikuti jejak mereka karena mereka mulai dari nol. Kenyataanya? Tidak segampang itu lagi-lagi sebagaimana saya jelaskan sebelumnya.

Semua dari kita kenyataannya nggak akan bisa sekeren Steve Jobs, sejenius Albert Einsteins, dan itu sama sekali bukan masalah besar, kok! Menjadi medioker atau orang yang biasa-biasa saja merupakan suatu bentuk kenormalan. Medioker bukan berarti nggak berharga. Harga hidup seseorang tidak ditentukan oleh orang lain, tetapi kita sendiri. Baskara Putra pernah bilang, hidup ini nggak ada artinya, maka kita bebas memberikan artinya sendiri. Yang kemudian saya pahami bahwa itu merupakan filsafat eksistensialisme Jean-Paul Sartre dan Albert Camus.

Jadi, jangan pernah ngerasa nggak berharga karena nggak sesukses Mark Zuckerberg. Jangan pernah merasa nggak worth karena terus-terusan jadi NPC (nonplayer character). No no no, you're still worthy, kok. Nggak perlu jadi hebat untuk berbuat baik. Cukup lakuin yang menurutmu berarti buat orang lain, udah sangat-sangat lebih dari cukup. Bahkan, hal-hal yang kelihatannya sepele bisa berarti besar buat orang lain, loh.

Sebagaimana kisah Evelyn di film Everything Everywhere All at Once (2022), bahwa hidup ini bukan terus mengejar menjadi seseorang yang bersejarah. Tapi, hidup adalah tentang bagaimana kita bisa menerima hidup kita apa adanya sembari memberi makna pada hidup itu sendiri.

Photo by Tara Winstead: https://www.pexels.com/photo/blue-text-on-white-paper-8386759/

Posting Komentar