Lupa untuk Ikhlas

Ada salah satu cerita menarik dari buku Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya karya Rusdhi Mathari. Dia menganalogikan bersedekah sama seperti kita pipis. Bukankah kita tak pernah menghitung berapa kali dan berapa banyak pipis yang kita keluarkan? Seperti dilepaskan begitu saja. Bentuk keikhlasan.

Artinya, sifat lupa itu tidaklah selalu buruk. Ibarat hard drive, perlu ada memori yang dihapus di otak agar tidak kewalahan. Coba saja bayangkan kita selalu mengingat dengan detail seluruh kejadian dalam hidup kita tanpa terlupa. Bisa-bisa kita jadi stres! 

Lupa itu memberikan ruang pada ikhlas. Kita bersedekah tanpa pernah mengingat kalau kita pernah. Tidak ada harap pamrih sama sekali terhadap orang yang kita beri. Sama halnya juga dengan kesalahan orang lain atau masa lalu yang sering kita sesali. Lebih baik dilupakan saja daripada menjadi beban pikiran, terlebih pada hal-hal yang tidak akan pernah bisa kita ubah lagi.

Memang, lupa bukanlah sesuatu yang mudah, terlebih berkaitan pada hal-hal yang monumental. Tetapi, tak ada salahnya untuk belajar melupakan. Mengikhlaskan. Melepaskan. Melegakan.

Jadi, sudahkah kamu lupa hari ini?

Photo by Kindel Media: https://www.pexels.com/photo/a-close-up-shot-of-a-document-with-a-binder-clip-7054367/

Posting Komentar