Hayo, siapa di sini yang nggak punya buku bajakan? Pasti pernah punya, entah karena terjebak harga atau dalam bentuk pdf yang bebas di-download di internet.
Kali ini aku mau merefleksikan soal pembajakan buku, terutama di Indonesia nih. Apalagi para penulis kayak J. S. Khairen atau Tere Liye sering banget menyuarakan tentang pembajakan buku di Indonesia.
Pada dasarnya, pembajakan buku masih ada di Indonesia tuh ya karena masih ada permintaannya. Artinya, kemungkinan masih ada orang-orang yang kurang mampu untuk membeli buku original atau bisa jadi mereka belum teredukasi untuk membedakan buku asli dengan buku bajakan. Terus, distribusi buku yang kurang memadai juga bisa jadi salah satu faktor tingginya angka pembajakan buku.
Ada satu hal yang bener-bener dilematis sewaktu aku berkuliah dulu. E-book dibagikan secara cuma-cuma. Agak sakit sih sebenernya pas baca, tapi ya mau gimana lagi? Bukunya belum ada versi Indonesia, kalau pun ada, mahalnya minta ampun. Sama kasusnya kayak buku-buku mahasiswa Kedokteran yang harganya tinggi banget. Biasanya mereka saling pinjam meminjam, sih.
Pembajakan buku tuh sakit bukan main sebenernya. Membajak buku berarti tidak menghargai orang-orang yang bekerja mengupayakan proses produksi buku tersebut dari ide menjadi barang. Bener-bener enggak menghargai kekayaan intelektual. Nggak etis.
Sebenernya, yang bisa kita lakukan bersama ya mendorong pemerintah untuk membuka akses buku seluas-luasnya. Bagus tuh udah ada iPusnas, jadi bisa pinjam e-book secara legal. Perluas juga perpustakaan di daerah-daerah, koleksinya jangan buku yang lawas-lawas. Usahain buku-buku kekinian gitu loh, biar orang-orang pada tertarik. Dan kalau bisa nih, ya. Harga buku dikurangin. Biaya yang bisa dikurangin, kayak pajak gitu. Jangan kualitas produknya atau fee orang-orangnya, nanti apa bedanya sama buku bajakan.
Photo by Nitin Arya: https://www.pexels.com/photo/photography-of-book-page-1029141/



Posting Komentar