Pertama-tama, mohon maaf jika judul artikel ini agak kontroversial dan berbau pesimisme. Memang, menjadi pengusaha itu bisa berkontribusi banyak ke negara. Bahkan, negara maju biasanya memiliki jumlah pengusaha yang signifikan. Lalu, usaha yang sudah besar nan sukses bisa memberikan keuntungan menggiurkan bagi para pemiliknya. Kita sebagai pemilik sudah barang tentu tak perlu lagi bekerja sekeras pada awal pendirian lantaran bisnis telah dijalankan secara auto-pilot.
Tapi, saya ingin menyampaikan sebuah kenyataan yang sedikit pahit:
Pada akhirnya, tak semua orang bisa jadi pengusaha. Ada yang memang mungkin tidak tahan dengan segenap ketidakpastian dunia usaha. Betul-betul bagaikan lautan yang sukar diprediksi ombaknya. Kadang tenang membuai, kadang menghantam tanpa rasa tega. Ada pula yang sudah jatuh bangun ribuan kali hingga akhirnya dirinya tersadarkan. Sepertinya memang saya "ditakdirkan" jadi pegawai. No, no, ini bukan ajakan untuk menyerah atau menyangkal pentingnya kerja keras. Ini tentang sesuatu bernama: self-awareness. Bagaimana kita bisa paham soal kelebihan dan kelemahan diri.
Ibarat kata bila kita baut ukuran 14, sampai kiamat tak akan pernah bisa dibuka dengan kunci 14. Sekali lagi, ini bukan kalimat pesimisme. Ini tentang melihat ke dalam diri. Sebenernya, cocok nggak sih ini semua sama diriku sendiri? That's the point. Tapi, pada akhirnya pilihan itu ada di tangan kita masing-masing. Apa pun pilihannya, pastikan opsi itu seirama dengan hati kita. Jangan sekali-kali ikut nasihat keramaian agar terlihat "normal". Sebab, diri kita sendiri yang akan menjalankan, bukan orang lain.
Jadi pengusaha atau pegawai sama-sama terhormat. Yang penting kita berbahagia menjalani pilihan kita.
Photo by Kuncheek: https://www.pexels.com/photo/accountant-counting-money-210990/



Posting Komentar