Dosen saya pernah berkata, "Tidak ada satu pun program studi di dunia ini yang mudah. Setiap prodi punya kesulitannya masing-masing." Kala mendengar pernyataan tersebut, saya menyangsikannya. Mana mungkin? Pasti ada prodi yang punya jadwal sangat ketat hingga mengharuskan mahasiswanya belajar tiap malam. Di sisi lain, ada pula prodi yang memiliki tekanan belajar relatif ringan sehingga memberikan mahasiswanya waktu relatif luang. Namun, sekarang saya baru menyadari bahwa ucapan dosen saya tersebut ada benarnya.
Ya, tidak pernah ada pilihan terbaik di dunia ini. Tidak ada satu pun opsi di muka bumi yang memberikan seratus persen kebaikan untuk pemilihnya. Itulah sebabnya, setiap hal yang kita pilih punya risikonya masing-masing. Ketika dihadapkan dengan banyak pilihan, kita perlu mem-breakdown-nya satu per satu. Apa dampak positifnya? Apakah ada sesuatu yang bisa kita capai sehingga batin kita menjadi terpuaskan karenanya? Sanggupkah diri kita menoleransi hal-hal negatif yang muncul dari pilihan-pilihan tersebut? Hingga akhirnya sekumpulan pilihan tersebut mengerucut menjadi suatu keputusan final-- dengan segenap positif negatifnya -- yang sudah melalui proses seleksi.
Selanjutnya, percayalah bahwa tidak ada yang namanya "pilihan hidup yang salah". Sebab, tak pernah ada kebenaran absolut dalam pilihan hidup masing-masing orang. Toh, keputusan tersebut sudah melalui pertimbangan. Pun, sosok yang menjalani bukanlah orang lain, melainkan diri sendiri yang akan berjalan di jalan pilihan tersebut. Kita bebas memilih untuk mengarang cerita hidup kita sendiri.
"Ih, aneh banget, masak dia keluar BUMN demi masuk PNS."
"Astaga, bukannya cari kerja, malah bikin usaha yang nggak jelas masa depannya."
Sekali lagi: ya, suka-suka dia, dong. Apa pun yang mereka pilih, pasti mereka sudah mengukur kemampuannya dan siap atas segala efek dan risiko yang kelak dihadapi. Every choice comes with its own consequences.
Berkenaan dengan pilihan hidup, ada sebuah video menarik dari Damar Panuluh. Video esai ini membahas terkait fenomena hubungan antargenerasi: generasi Z yang notabene hidup di era keberlimpahan pilihan, dengan generasi sebelumnya yang tak diberi banyak opsi. Silakan disimak:
Seperti kata Hindia, hidup ini memang nggak ada artinya. Karena nggak ada artinya, maka kita bebas untuk mengarang dan memberikan arti untuk hidup kita sendiri!



Posting Komentar