Tak Mungkin Menyenangkan Semua Orang

Mungkin kita sudah sering menyimak kisah klasik mengenai suami-istri dengan keledai tunggangannya. Setiap pilihan yang mereka ambil dan tunjukkan selalu saja mendapatkan komentar miring yang sifatnya menyalahkan. Sebetulnya kisah ini telah memberikan gambaran komprehensif tentang kemustahilan menyenangkan semua orang. Keledai tidak ditunggangi, dibilang bodoh. Suami menunggangi, disebut tega. Istri menunggangi, dikata takut. Keduanya menunggangi, diujar kasihan. Selalu ada celah bagi setiap manusia untuk mencari kesalahan dari sesuatu di dunia ini. Hal ini berangkat dari adanya distingsi persepsi antarmanusia lantaran perbedaan latar belakang tiap manusia tersebut, entah budaya, lingkungan, atau kebiasaan.

Sama halnya dengan situasi kontemporer. Contohnya, pemerintah hendak membuat kebijakan. Tentu mereka berkonsultasi dengan para ahli, melihat rekam jejak kebijakan sebelumnya, melalui sejumlah diskusi panjang hingga akhirnya ditetapkan secara resmi. Itu langkah yang harus dilalui oleh pemerintah yang berjalan sesuai koridor lho, ya. Bukan cuma ngawur tiba-tiba bikin kebijakan. Setelah itu, apa? Prokontra tak terhindarkan. Kalau pemerintah berusaha menyenangkan semua pihak, ya jalan satu-satunya adalah tidak membuat kebijakan apa pun. Itu pun pasti ada yang kontra karena berarti pemerintah tidak melakukan jobdesk-nya. Nah, jadi serbasalah, kan? Wkwkwk.

Begitu juga yang terjadi dalam dunia konten kreator yang lekat dengan kolom komentar. Kita membuat konten seadanya, ada yang menyukai, ada yang menghujat. Kemudian, kita bikin konten penuh niat, ada yang memuji dan tak sedikit pula yang mencaci karena rindu konten lama. Ya, begitulah kehidupan ini.

Yang bisa kita lakukan adalah melaksanakan sesuatu dengan penuh rasa tanggung jawab. Hal tersebut perlu kita lakukan secara sadar dengan proses pertimbangan matang. Sudah itu saja. Tidak perlu menjadi yang terbaik sedunia dan mengejar persentase kebencian sekecil-kecilnya. Hanya membebani pikiran semata dan kehilangan fokus kita. Selama diri ini bahagia dan paham seratus persen, yakinlah dengan perbuatan kita. Tak perlu terlalu dalam memikirkan hal-hal yang di luar kendali kita, seperti omongan orang lain. 

Kita tidak akan pernah bisa memuaskan semua orang. Berusaha memuaskan hasrat setiap orang di muka bumi ini akan berakhir tidak memuaskan siapa pun, termasuk dirimu sendiri. 

Photo by Pixabay: https://www.pexels.com/photo/two-yellow-emoji-on-yellow-case-207983/


Posting Komentar