Awalnya saya mengira bahwa bisnis adalah saat seseorang melakukan sesuatu yang dianggap baik, kemudian orang lain bersedia untuk membayarnya. Prinsip yang saya pegang itu akhirnya mengalami perubahan seiring saya duduk di bangku kuliah. Pada satu mata kuliah, dosen saya mengenalkan konsep yang disebut sebagai Value Proposition Canvas. Di situ terdapat pemetaan profil konsumen dengan nilai produk yang ditawarkan oleh sebuah bisnis. Pada dasarnya, "bisnis" merupakan hubungan timbal balik, tatkala "bisnis" menyelesaikan masalah dan memberikan solusi kepada "seseorang". Setelah menentukan Value Propotion Canvas, kami diminta mendetailkan rencana bisnis dengan Business Model Canvas (BMC). Kalau yang ini, konsepnya sudah berupa gambaran bisnis yang lebih komprehensif lagi. Tak terhenti di situ, validasi pasar juga diperintahkan untuk memberikan gambaran kuat bahwa bisnis kami memang betulan ada peminatnya. Cukup panjang bukan? Sebenernya ini juga belum seberapa karena masih ada hal-hal yang belum saya ceritakan lebih lanjut, seperti keunikan, analisis kompetitor, dan masih banyak lagi. Betul-betul sedetail itu!
Nah, hal yang hendak saya bicarakan di sini adalah tentang kejelian melihat peluang. Berbisnis juga soal itu. Seringkali kita begitu terperangah dengan bisnis yang tak pernah bersinggungan dengan kehidupan kita. Sebagai contoh, bisnis jasa penitipan barang kos bagi para mahasiswa yang pergi KKN. Daripada mereka harus membayar utuh uang kos, lebih baik dititipkan saja dengan harga yang jauh lebih miring. "Hah, kayak gitu ternyata bisa ya dibisnisin?" Yap, tak bisa dipungkiri bahwa selama ada masalah atau demand dari konsumen dan mereka bersedia untuk membayarnya, solusi atau supply itu akan terus dicari. Jadi, apakah kamu berencana mendirikan bisnis? Pastikan ada market-nya, ya!
Photo by Lukas: https://www.pexels.com/photo/person-pointing-paper-line-graph-590041/



Posting Komentar