Sudah Waktunya Pensiun, Ya?

Secara angka, kita tak pernah bertambah muda. Usia terus bertambah seirama dengan detik waktu dan detak jantung. Ada saatnya kita diharuskan untuk berhenti atau pensiun dari hal-hal di dunia ini, seperti pekerjaan. Alasan-alasan yang muncul biasanya seputar kesehatan atau performa yang menurun karena usia. Tak lagi produktif seperti generasi-generasi selanjutnya. Hingga akhirnya mau tak mau menjadi tergantikan oleh orang-orang yang lebih muda. Ada perasaan campur aduk yang hadir sebenarnya. Di satu sisi, masa pensiun bisa mengantarkan kepada kehidupan yang lebih santai alias beristirahat setelah letih bekerja sekian lama. Namun, di lain sisi, ada keinginan memberontak bahwa belum waktunya untuk pensiun dan masih ingin aktif berkarya. Apresiasi kepada restoran cepat saji Pepper Lunch yang memberikan kesempatan tersebut bagi orang-orang lanjut usia yang masih ingin aktif di usia senjanya. Fenomena tersebut seolah memberikan statement bahwa lowongan pekerjaan sudah seharusnya bersifat inklusif, terbuka untuk siapa saja, asalkan punya spirit bekerja. Berbicara soal inklusivitas dalam lapangan pekerjaan, saya jadi teringat dan mengapresiasi betul hal yang dilakukan oleh Sunyi Coffee. Kafe tersebut memberikan kesempatan bagi kawan-kawan difabel untuk berkarya di tengah stigma masyarakat yang menggema. Sekadar intermezzo, dosen saya pernah mengatakan bahwa penyebutan "difabel" lebih baik karena berarti different ability atau memiliki kemampuan yang berbeda. Jadi, bukan "disabilitas" yang menyiratkan ketidakmampuan. 

Kembali ke topik tentang pensiun. Ada beberapa orang-orang yang di usia seniornya masih bertahan. Tak kunjung pensiun. Dalam beberapa kasus, biasanya mereka masih menunjukkan performa mumpuni dengan segudang pengalamannya sehingga belum dapat tergantikan. Di bidang olahraga, sebut saja Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Memang, ikon rivalitas sepak bola ini tak lagi bermain di tiga besar liga top dunia lagi. Tapi, mereka punya modal kebintangan serta masih menunjukkan semangatnya untuk terus menggocek bola di umur yang sudah nyaris kepala empat. Di dunia film, George Miller yang berusia nyaris kepala delapan, masih menyutradarai film aksi jalanan, Furiosa: A Mad Max Saga, yang rilis beberapa waktu silam.

Walaupun demikian, saya membaca persamaan dari mereka yang urung pensiun walau secara standar masyarakat sudah tiba masanya. Apakah itu? Adaptasi. Mereka tidak mempertahankan pikiran kolot atau terus-terusan membanggakan zaman saat mereka bertumbuh dulu kala. Sebaliknya, mereka berupaya untuk terus beradaptasi mengenai segala perkembangan, bahkan bertransformasi menjadi manusia pembelajar tanpa kenal lelah. Sosok manusia yang senantiasa beradaptasi dengan hal-hal baru, seperti terobosan teknologi yang tak henti ditawarkan zaman.

Saya jelas memang belum memasuki usia pensiun. Akan tetapi, perkenankan saya untuk memberikan secarik pesan untuk saya pribadi di masa mendatang serta mereka yang sudah di ambang pintu pensiun. Hidup itu pilihan, jika ingin memilih pensiun, menikmati masa tua, beristirahat tanpa ada tuntutan pekerjaan, dipersilakan. Namun, bila jiwa raga menolak pilihan itu, saya menyarankan untuk mengosongkan dan memperbarui pikiran. Meminimalisasi romantika nostalgia dengan memperbanyak belajar hal baru, menjadi mentor berbekal sejuta pengalaman, serta memberikan ruang kepercayaan bagi para generasi muda. Usia boleh dikata renta, tapi pikiran dan jiwa harus tetap muda tak lekang dimakan masa. Sebagaimana yang dikatakan seorang penulis dan pengusaha Okki Sutanto, bahwa usiamu bukanlah usaimu.

Photo by Pixabay: https://www.pexels.com/photo/man-in-bus-247929/

Posting Komentar