Apaan sih, orang-orang tuh datang pas ada maunya. Giliran lagi gak butuh kitanya ditinggal. Dulu, saya sangat sering mencak-mencak mengutuk betapa oportunisnya manusia itu. Hingga akhirnya mengantarkan pada sebuah ungkapan bahwa people come and go. Sedikit melegakan. Pasalnya, memang kehidupan akan bergerak demikian. Konsep utamanya adalah "tujuan". Orang akan berkumpul, berkomunikasi, dan menghabiskan waktu bersama tatkala mereka memang satu visi. Misalnya, saat naik kereta api sendirian, kita mungkin akan sedikit berbasa-basi dengan orang yang sebelah kita. Kita akan duduk bersamanya semenjak kereta berangkat hingga kereta tiba di pemberhentian terakhir. Perjalanan sudah selesai, tujuan telah tercapai, saatnya berpisah melanjutkan petualangan masing-masing.
Sama halnya dengan kawan semasa kita sekolah atau kuliah. Kita berkomunikasi dengan mereka secara intens, bahkan membentuk semacam grup pertemanan atau sirkel. Tanya-tanya soal tugas, bermain bersama, bahkan bergosip tentang hal-hal yang ada di lingkungan sekolah atau kuliah. Semua pasti pernah dilakukan karena masih satu visi dan terikat dalam institusi yang sama. Hingga akhirnya agenda kelulusan hadir. Janji setia untuk tetap berhubungan, meskipun sudah melanjutkan kehidupan masing-masing menjadi pernyataan yang tak pernah absen dalam acara perpisahan. Kebanyakan memang omong kosong karena perjalanan kehidupan masing-masing yang sudah tidak saling relate lagi. Walaupun tak menutup kemungkinan masih ada acara reuni yang sifatnya seasonal dengan daftar ketidakhadiran. Saya hendak mengapresiasi kepada mereka yang masih dapat berkawan, meskipun tidak saling relate. Apa resep rahasianya? Benarkah begitu terikat hubungan emosional dalam atu raga, jiwa, dan rasa?
Baik, kembali mengenai fenomena people come and go. Apakah saya bersedih atas teman-teman saya yang sudah pergi? Tidak. Apakah saya berusaha memohon mereka untuk kembali dengan menjual cerita iba? Tidak juga. Saya betul-betul menerimanya. Satu siasat yang saya terapkan dalam setiap pertemuan adalah memberikan yang terbaik selagi masih bisa bertemu. Ukir memori sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya. Saya sadar seutuhnya bahwa gerbong kereta ini akan tiba di perhentian terakhirnya. Atas dasar kerapuhan dan kesementaraan itu, saya memanfaatkan waktu dengan gerbong tersebut sebaik-baiknya. Saya mengerahkan seluruh kemampuan saya untuk menjadikan waktu selama di gerbong sebagai waktu terbaik yang pernah ada. Full effort. Saya tak pernah menuntut orang-orang di gerbong akan membalas kebaikan yang telah saya perbuat di masa depan. Saya hanya ingin merasakan kepuasan karena saya telah berbuat sebaik-baiknya kepada mereka. Usai berpisah nanti, saya tak ingin ada penyesalan: mengapa dulu saya tidak berbuat baik kepada mereka?
Jadi, sudahkah kamu berbuat baik kepada orang-orang yang kelak akan pergi meninggalkan kita?
Aku tidak akan pernah menangis karena sesuatu telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi. (Tere Liye dalam buku Tentang Kamu)
Photo by Paul IJsendoorn: https://www.pexels.com/photo/beige-and-red-train-1181202/



Posting Komentar