Yang Kita Tabur: Yang Tak Tumbuh dan Yang Kita Tuai

Sebagian dari kita memandang bahwa hidup adalah serangkaian peristiwa transaksional. Kita mengeluarkan uang untuk membeli makanan, maka kita memperoleh rasa kenyang. Sebuah proses transaksi yang timbal baliknya diharapkan terjadi secara instan. Begitu juga dalam interaksi sosial, kita berbuat baik kepada teman sembari berharap teman tersebut melakukan hal yang sama dengan kita. Pandangan seperti ini tak bisa dilepaskan dari hukum karma atau adanya hari pembalasan. Bahwa setiap perbuatan, bahkan sekecil dzarrah akan ada ganjarannya yang boleh jadi tidak langsung terbalaskan saat itu juga.

Tatkala berbuat jahat, mungkin kita berharap bahwa balasannya tidak akan pernah tiba. Lain hal jika berbuat baik, diri kita menuntut agar kebaikan yang sama menimpa diri kita -- dengan segera kalau bisa. Bahkan, tak jarang kita sering mengeluh jika kebaikan tersebut dibalas oleh kejahatan. Sebagaimana peribahasa: air susu dibalas air tuba. Yang berujung pada pertanyaan: mengapa hidup ini tidak adil?

Kenyataannya, hidup bukannya tidak adil. Hidup pada dasarnya berjalan kompleks dengan segala faktor yang seringkali tidak bisa diteorikan atau dicerna oleh akal manusia. Islam mengajarkan persoalan tentang niat. Bahwa segala perbuatan itu tergantung kepada niatnya. Niat yang tulus ikhlas semata-mata karena Allah. Ajaran stoikisme juga mengambil pendekatan serupa bahwa terdapat hal-hal yang tak dapat kita kendalikan pada faktor-faktor yang berada di luar diri kita.

Sebagaimana kita menabur benih di pekarangan. Kita sudah merencanakan dengan matang, mulai dari pemilihan benih yang unggul, perawatan yang konsisten, hingga menggunakan bahan-bahan terbaik. Setelah ditunggu beberapa waktu, ternyata banyak benih yang tak tumbuh. Hanya segelintir saja yang dapat kita tuai. Coba menengok pekarangan tetangga, betapa mereka menuai hasil panen yang melimpah. Padahal, usaha mereka sama persis dengan kita, bahkan mungkin tak sebaik usaha kita kelihatannya. 

Begitulah hidup, hasil buruk tak boleh menyurutkan semangat kita untuk terus menebar kebaikan di muka bumi. Apalagi, mengomel dengan menyebut bahwa hidup ini begitu jahat dan tidak adil. Oleh karena itu, kita perlu untuk melihat kembali ke dalam diri. Apakah kita terlalu berekspektasi hingga mengaburkan niat tulus ikhlas? Atau jangan-jangan kita terlalu berharap hingga berusaha mengendalikan hal-hal yang takkan pernah bisa kita kendalikan? Hal yang perlu diingat adalah bahwa kehidupan tak pernah berhenti untuk memberikan kita hikmah atau pelajaran. Ingatlah selalu bahwa rezeki terkadang datang dari arah dan pada waktu yang tak disangka-sangka.

Saat menulis tentang topik ini, saya begitu teringat dengan lagu "Membasuh" (feat. Rara Sekar) karya Hindia yang dirilis tahun 2019 lalu. Selain suasana lagunya yang sendu lagi candu, lagu ini sebenarnya punya pesan mendalam perihal keikhlasan. Di lagu tersebut Baskara menjelaskan bahwa ternyata hidup bukanlah soal menuai hal-hal yang sudah ditebar sebelumnya. Bukan sebuah mekanisme matematika atau hubungan sebab-akibat yang kaku. Bahkan lirik tersebut juga diperkuat oleh deretan pernyataan yang menyiratkan tentang: bisakah kita tetap berbuat kebaikan tanpa pamrih, bahkan saat kita berada di posisi yang susah atau tak layak untuk memberi?

Photo by Gelgas Airlangga: https://www.pexels.com/photo/shallow-focus-of-sprout-401213/

Posting Komentar