Tanggal rilis Home Sweet Loan sungguh-sungguh sudah saya nantikan. Saya tak sabar membeli tiketnya lantaran munculnya sejumlah ulasan positif dari para reviewer film yang sudah nonton duluan. Batal menyaksikannya saat public early screening, saya berkeinginan untuk menontonnya di hari pertama perilisan: 26 September, hari Kamis. Sebagai informasi, hari Kamis adalah hari perilisan reguler film Indonesia di bioskop. Tak heran, bila ada tagar #KamisKeBioskop. Saya memilih lokasi bioskop yang relatif sepi dan terhitung murah di kota. Terlebih, saya memilih hari Kamis yang notabene hari kerja serta waktu tengah hari demi mendapatkan kehampaan di studio bioskop.
Namun, betapa terperangahnya saya tatkala hendak menaiki eskalator menuju bioskop. Puluhan atau mungkin ratusan rombongan anak sekolah tampak berebut turun menunggang eskalator. Beberapa di antara mereka begitu antusias hingga saling dorong, sementara lainnya berbaris antre dengan tertib. Ternyata oh ternyata, anak-anak sekolah berbatik biru ini baru saja selesai menyaksikan film. Rupanya, kegiatan studi lapangan berbentuk acara nonton film bersama.
Saya iseng bertanya kepada petugas bioskop tentang film yang ditonton oleh mereka.
“Buku Harian, filmnya disediakan oleh koordinator lapangannya,” sebutnya.
Memang, kehadiran anak-anak sekolah mungkin agak sedikit membuat gaduh bagi beberapa pengunjung. Tapi, saya menyambut momen ini dengan positif. Why? Karena ini sebagai bentuk pengenalan sinema atau bioskop kepada anak-anak sekolah. Edukasi tidak melulu dijalankan di dalam ruang kelas dengan tembok yang mengelilinginya. Atau dengan study tour yang lokasinya itu-itu saja. Edukasi bisa datang dari mana saja. Bahkan dari media film sekali pun yang sering dijuluki oleh sebagian orang sebagai “hiburan penghabis waktu”. Jadi, adanya program studi lapangan nonton film bareng di bioskop ini tampaknya dapat menjadi medium edukasi sekaligus upaya untuk membuat sinema/bioskop dapat diakses oleh semua orang alias membumi.
Tentang film, saya jadi teringat semasa saya bersekolah dulu. Ketika jam kosong atau jamkos, kegiatan yang sering dilakukan adalah apa lagi kalau bukan: nonton film bareng di layar besar proyektor. Duh, andai saja dulu saat saya sekolah ada studi lapangan nonton film bersama. Di bioskop pula! Pasti seru!
Photo by Donald Tong: https://www.pexels.com/photo/theater-interior-109669/



Posting Komentar