Sepulang sekolah, Budi bermain menyerah-menyerahan dengan teman-temannya di taman perumahan. Barangsiapa yang bisa lebih menyerah maka dialah yang memenangi permainannya. Budi pun mengawalinya.
“Aku menyerah,” ucap Budi.
“Nggak, aku yang menyerah,” imbuh teman lainnya.
“Aku dong, aku menyerah,” tandas satu temannya lagi.
Permainan itu tak kunjung selesai karena memang tidak sejelas itu. Akhirnya, Budi mengundurkan diri dari permainan karena dipanggil adiknya, Ani.
“Tapi, kamu nggak menyerah kan, Bud? Cuma mengundurkan diri?” kata satu teman.
“Iya, betul. Ayo kita lanjutkan permainan nyerah-nyerahan ini,” sambar teman lainnya.
Budi berjalan beriringan dengan Ani. Kata Ani, rumah kosong. Ayah dan Ibu mengabari lewat grup keluarga bahwa mereka sedang pergi ke toko parfum. Rumah dikunci. Ayah dan Ibu meminta Ani dan Budi untuk mencari cara agar dapat masuk ke rumah.
Tiba di rumah, Budi pun teringat bahwa dirinya pernah membuat pintu rahasia di belakang rumah saat masih belia. Budi beserta Ani membuka pintu rahasia. Budi dan Ani menemukan sebotol parfum bertuliskan “Teh Keraton”.
“Ini kan pengharum yang sudah bertahun-tahun dicari Ayah! Ternyata ada di sini, ya?” kata Ani dengan mata berbinar.
“Iya, waktu itu Ayah sudah menyerah mencarinya,” kata Budi.
Sementara itu, di taman perumahan. Matahari beranjak tenggelam. Mereka masih bermain menyerah-menyerahan. Terdengar percakapan dalam permainan yang tak kunjung menemui pemenangnya.
“Ini permainan ajaran siapa, sih? Kok gak selesai-selesai?”
“Ayah Budi,”
Sepulang Ayah dan Ibu dari toko parfum, Ayah melompat kegirangan usai mendengar kabar penemuan parfum tersebut. Keluarga Budi akhirnya menemukan parfum yang telah lama hilang, hari itu jadi hari paling bahagia.
@30haribercerita #30haribercerita #30hbc24mengarang #30hbc2424
Postingan ini merupakan salah satu tulisan saya ketika berpartisipasi dalam tantangan 30 Hari Bercerita di Instagram pada bulan Januari 2024 lalu.

.png)

Posting Komentar