Mr. Tongkol, S. Kilo.

KKN (Kuliah Kerja Nyata) tahun lalu, membuatku berjumpa dengan berbagai hal. Salah satunya, aneka makanan yang mengalir tiada henti. Mulai dari masakan saat acara warga hingga bermacam camilan yang dibeli untuk sekadar mengganjal perut. Pada suatu hari, salah seorang rekan setimku membawa sebuah camilan berwarna putih dengan bentuk tabung silinder serta cabai hijau kering yang menyelip di antaranya. Tampilannya yang terlihat enak seolah membujukku untuk menikmatinya. Dan benar saja, saat bersinggungan dengan lidahku, rasanya sungguh membuat wajah sumringah.

“Ini namanya apa, ya?” tanyaku.

Setelah bertanya sana-sini, ternyata nama camilan itu adalah kerupuk tongkol. Singkat cerita, aku pun langsung jatuh cinta dan ketagihan untuk terus menyantapnya sepanjang hari. Terbukti dari ketinggian kerupuk tongkol yang menjadi surut dengan sangat cepat di dalam toples.

Sepulang KKN, aku berniat menghadirkan kerupuk tongkol di rumah sebagai stok camilan. Alhasil, aku memesan satu kilogram kerupuk tongkol lewat e-commerce. Sekalian banyak, biar gak bolak-balik beli.

“Pakeeet!” teriak seseorang di depan rumahku.

Waw! Ternyata besar sekali, sudah seperti guling saja ukurannya! Begitulah kisah di balik salah satu camilan favoritku yang rasanya gurih, renyah, dan agak ngikan ini!

@30haribercerita #30haribercerita #30hbc24makanan #30hbc2420

Postingan ini merupakan salah satu tulisan saya ketika berpartisipasi dalam tantangan 30 Hari Bercerita di Instagram pada bulan Januari 2024 lalu.

Posting Komentar