Ramen Pembuka Pikiran

“Ini apa?” tanya Prava.

“Ramen pembuka pikiran,” jawabnya.

Prava adalah anak rumahan yang betah di kamar. Tiap ada ajakan main dari teman-temannya yang bisa dihitung jari, dia selalu punya sejuta alasan untuk menghindarinya. Hari ini, dua rekannya, mengajaknya makan siang di sebuah warung ramen. Anehnya, Prava langsung mengiyakan undangan tersebut. Tumben. Dasar aneh. Mungkin saking jenuhnya dengan dunianya yang hanya kamar, kamar, dan kamar saja.

Siang itu, Prava dan dua temannya menyantap ramen. Perbincangan mengalir, mulai dari topik basa-basi hingga rahasia alam semesta. Mereka saling melempar tanya, berbagi jawaban, dan tertawa terbahak-bahak.

Setelah ramen selesai bermigrasi ke perut Prava, dia dan teman-temannya menikmati puding sebagai hidangan penutup. Tapi, hidangan penutup itu tak serta merta menutup segala hal yang terjadi pada siang itu. Puding itu menggertak ramen di dalam lambung Prava untuk segera bertindak. Ramen itu memberikan sinyal kepada otak Prava.

Jeder! Kepala Prava terguncang hebat sampai-sampai ia menanyakan varian ramen yang ia santap kepada rekannya. Tinta pekat seolah telah membanjiri matanya.

Malamnya, Prava terbangun di atas kasurnya. Kini, pandangan Prava tentang dunia tak lagi sama. Ramen itu telah membuka pikirannya.

Bahwa dunia ternyata lebih luas dari sebenarnya. Bahwa keleluasaan bisa membius, bila tak didayaguna.

@30haribercerita #30haribercerita #30hbc2407

Postingan ini merupakan salah satu tulisan saya ketika berpartisipasi dalam tantangan 30 Hari Bercerita di Instagram pada bulan Januari 2024 lalu.

Posting Komentar