Kok Dia Hebat?

Akhir-akhir ini lagi sering banget ngerasa,

“kok dia hebat banget, sih?”

“bisa secepat itu, ya?”

Padahal sebenernya udah tahu, kalau tiap orang punya lajur dan waktunya masing-masing. Kalau kata Hindia,

“Hidup bukan saling mendahului, bermimpilah sendiri-sendiri,”

Tapi, ya tetep aja pikiran kalau diri ini selalu gak lebih baik dibandingkan orang lain, masih terus bersemayam.

Ya, sebetulnya dari awal sudah kurang tepat. Membandingkan diri sendiri dengan orang lain yang dari awal penciptaan sudah berbeda. Detik lahirnya aja beda. Lingkungan sekitarnya juga gak sama. Masih ngotot ngebandingin? Nggak apple to apple.

“Panteslah dia berhasil, orang dia kan ini, dia kan itu.”

Ya, gimana, ya. Kupikir kalau orang diperdengarkan cerita utuh tentang prosesnya, boleh jadi bakal ditarik tuh kata-katanya.

Mending masalah begituan dijadiin pecutan untuk tersadar aja, sih. Nggak usah diambil terlalu dalam sampai merasa jadi manusia gagal.

Intinya, cuma mau ngingetin ke diri sendiri. Gak perlu tolah-toleh berlebihan sampai kehilangan jati diri sendiri. Membandingkan diri sendiri saat ini dengan masa lalu rasanya merupakan opsi yang jauh lebih baik. Merasa tertinggal? Tidak ada kata terlambat rasanya selama jantung masih berdetak. Jalanmu lambat? Tak masalah selama itu tetap bergerak maju walau sesenti. Lagipula, manusia itu pasti naik turun. Nggak ada yang namanya “sempurna”. Dan inget, kita nggak akan pernah bisa nyenengin semua orang. So, just do it.

@30haribercerita #30haribercerita #30hbc2403

Postingan ini merupakan salah satu tulisan saya ketika berpartisipasi dalam tantangan 30 Hari Bercerita di Instagram pada bulan Januari 2024 lalu.

Posting Komentar