Jalan Kaki

Aku seneng banget sama yang namanya jalan kaki. Kalau sehari aja nggak jalan kaki tuh, rasanya ada yang aneh. Kok gitu? Gini lho, ceritanya.

Semua berawal dari indeks massa tubuh yang menyatakan bahwa diriku berada di zona merah. Ya, angka timbangan telah menunjukkan digit mengkhawatirkan bagi orang seukuranku. Peringatan mengenai risiko penyakit akibat lemak berlebih pun mulai menghantui pikiranku. Aku mesti menurunkan berat badan.

Tapi, harus mulai dari mana? Tentu yang tebersit dalam benakku pertama kali adalah berolahraga. Saat itu, aku membayangkan diriku tengah berlari kencang dengan cucuran air dari kulit yang menjadi bukti bahwa koloni lemak berhasil dibakar. Sayangnya, setelah dijajal, napasku tersengal-sengal dibarengi kaki yang sakit. Apa karena belum terbiasa, ya?

Sebab masih pemula di dunia olahraga ini, aku mencoba mengulik olahraga ringan, terutama bagi mereka yang memiliki berat berlebih.

“Kalau obesitas dan mau menurukan berat badan, saya sarankan untuk jalan kaki dulu saja. Sayangi kakimu,” kata beberapa orang yang mengedukasi soal kesehatan di media sosial.

Semenjak itu, aku mulai merutinkan untuk berjalan kaki. Makin hari, malah jadi makin menikmati aktivitas yang satu ini. Enak juga ya ternyata jalan kaki tuh, begitu pikirku. Jadinya, kalau parkir motor, sebisa mungkin ambil tempat yang jauh dari pintu masuk. Lebih milih naik turun tangga daripada lift. Dari aktivitas jalan kaki ini, aku memperoleh lebih dari sekadar manfaat olahraga.

Berkat berjalan kaki, aku berhasil menambah wawasan dari siniar yang kudengar.
Karena berjalan kaki, aku bisa sedikit membantu menenangkan batin diri yang gelisah.
Dengan berjalan kaki, benang ruwet di kepala dapat mulai tersotir melalui perenungan.

Bahkan, ada karya yang pernah kurancang saat berjalan kaki sepanjang 6 kilometer. Gemerlap, namanya — bisa diakses di bit.ly/lepaslelahlesumu.

Dan berjalan kaki telah mengajarkanku untuk melambat sejenak di tengah hiruk-pikuk dunia yang serbacepat. Sesederhana menyadari hal-hal di jalan yang selama ini luput terlewat lantaran laju kendaraan bermotor yang bergerak terlalu cepat.

@30haribercerita #30haribercerita #30hbc2402

Postingan ini merupakan salah satu tulisan saya ketika berpartisipasi dalam tantangan 30 Hari Bercerita di Instagram pada bulan Januari 2024 lalu.

Posting Komentar