Pukulan smash-nya berhasil dihalau dengan baik. Suasana riuh menyelimuti pertandingan itu. Pertandingan final yang amat sengit. Pertandingan yang menghadirkan dua kubu jagoan yang saling berebut trofi juara.
Will adalah seekor rusa kecil. Ayah dan ibunya telah meninggal pada masa perjuangan. Will kini diasuh oleh paman Will yang merupakan adik ayah Will. Paman Will tak memiliki anak sehingga ia senang dengan kehadiran Will di keluarga kecilnya. Will gemar sekali menonton pertandingan badminton di televisi.
“Dulu kakek kau seorang legenda tunggal putra badminton, ia berhasil memperoleh belasan medali emas di kompetisi antarhutan,” tukas Paman Will kepada Will. di suatu kesempatan kala menonton pertandingan badminton di televisi. Will mengangguk takzim.
Badminton merupakan salah satu olahraga populer di hutan tempat Will tinggal. Sepak bola saja kalah. Ada sekolah badminton di hutan Will yang dikelola oleh Pak Rustam, seekor zebra. Pak Rustam merupakan mantan pemain badminton ganda campuran paling legendaris di hutan Will. Tandemnya adalah Bu Rustam sendiri. Mereka menikah setelah pensiun dari dunia bulu tangkis. Kemudian, mereka mendirikan sekolah badminton untuk mencetak generasi baru yang diharapkan dapat mendulang emas di kompetisi badminton antarhutan.
Salah satu putra terbaik di sekolah badminton itu ialah Roni, seekor Jerapah. Tubuhnya yang tinggi ditambah ambisinya dalam latihan yang luar biasa mengantarkannya ke panggung juara pertama berkali-kali. Beberapa orang mengatakan ia sedikit arogan. Dalam suatu wawancara, ia pernah mengatakan bahwa pencapaiannya adalah murni dari usaha tangannya sendiri.
Suatu sore, Will bermain di lapangan badminton hutan dengan Ana, seekor kancil. Mereka merupakan tetangga sebelah rumah sekaligus sahabat dekat di sekolah. Mereka biasa bermain badminton bersama dengan hewan-hewan lainnya.
Ketika hewan-hewan tengah bermain, tiba-tiba Roni dengan angkuhnya datang menantang untuk bertanding dengannya. Semuanya takut dan mundur, Will memutuskan untuk maju menantang Roni. Namun, Ana mencoba mencegahnya. Sayangnya, cegahan Ana gagal dan jadilah sebuah pertandingan menarik antara Will dan Roni. Nyaris seluruh hewan mendukung Will untuk mengalahkan Roni yang amat angkuh. Ya, sesuai prediksi Roni berhasilkan menundukkan Will. Tak satu pun poin yang berhasil ditorehkan oleh Will. Seakan kok dan Roni memiliki kutub yang sama.
Ana mencoba menghibur Will, membesarkan hatinya.
“Esok kita kan banggakan hutan dan kalahkan si Roni angkuh itu,” hibur Ana.
Sepulang di rumah, Will menangis dan mencurahkan perasaannya kepada pamannya.
“Kau tahu tidak rahasia terbesar Paman? Paman mewarisi kemampuan bulu tangkis kakek kau,” ujarnya bijak.
“Sayangnya, aku tak pernah sekali pun menjajal kompetisi bulu tangkis, kakek kau tak memperbolehkannya. Katanya, aku lebih baik bekerja di bidang lain,” lanjutnya.
“Satu-satunya rival di dunia ini selama aku hidup, ya cuma kakek kau,” lanjutnya lagi.
Will mengangguk takzim. Sontak, ia segera merengek kepada pamannya untuk diajarkan bermain badminton.
“Wah, Paman terakhir kali bermain badminton ketika kakek kau masih hidup, sudah lama sekali, tapi Paman akan coba ajari kau,”
Will bertepuk tangan kegirangan.
“Will ada satu pertanyaan. Mengapa Kakek tetap mengajari Paman bulu tangkis?” tanya Will penasaran.
“Filosofi. Kakek kau ingin mengajarkan dan mewarisi filosofi bulu tangkis kepada Paman untuk mengarungi derasnya arus kehidupan,”
Will hanya bisa mengiyakan.
Esoknya tersiar kabar akan diadakan kompetisi badminton tingkat hutan. Will mengajak Ana untuk berpartisipasi. Rencananya, mereka berdua akan tampil sebagia ganda campuran. Waktu kompetisi tinggal dua pekan lagi.
“Pamanku akan mengajari kita berdua, the real badminton, pewaris legenda badminton,” ucap Will sambil terkekeh.
“Siapa legenda badminton?” tanya Ana.
“Rahasia,” kata Will lalu tertawa ngakak.
Jadilah Paman Will melatih mereka berdua dengan konsisten setiap pagi dan sore. Paman Will selalu menyelipkan pesan-pesan kehidupan dalam setiap sesi belajar. Bahwa badminton bukanlah sekadar badminton, badminton merupakan hakikat kehidupan manusia yang senantiasa harus dijalankan.
Dalam sebuah sesi latihan, Ana berkata kepada Will, “Kudengar Roni berpasangan dengan Rini, saudara kembarnya.”
“Oh, mari kita kalahkan mereka!” ucap Will sambil mengepalkan tangan.
Teriakan Will terdengar oleh Paman Will.
“Badminton bukanlah soal urusan menang dan kalah, tetapi urusan hati dan mental, Wi,” nasihat Paman Will.
“Harus tetap tenang dalam kondisi apa pun dan harus konsisten, itulah pelajaran dalam bermain badminton,” lanjut Paman Will.
Will hanya bisa nyengir dan Ana mendengarkan dengan saksama.
Tibalah waktu kompetisi. Will dan Ana melalui seluruh pertandingannya dengan rubber set. Artinya, mereka tak pernah menang dua nol. Paman Will mendampingi dan memberi arahan dalam setiap laga. Dengan peluh yang bercucuran, dengan segala perjuangan dan usaha yang dikeluarkan Will dan Ana berhasil mencapai partai final. Partai final akan mempertemukan pasangan Will-Ana dengan Roni-Rini. Ini merupakan pertandingan menakjubkan mengingat Roni merupakan putra terbaik badminton hutan dan saudara kembarnya yang mempunyai bakat badminton mumpuni. Partai final akan digelar esok hari.
Malam hari sebelum pertandingan, Paman Will tak memberikan latihan kepada Will dan Ana. Ia malah memberikan sederet nasihat kepada dua calon emas pemain badminton ini.
“Tak masalah jika kalian berdua esok kalah, artinya mental dan kedisiplinan kalian masih harus ditata dan diperbaiki lagi. Tak apa kalah, jadikan sebagai sebuah pembelajaran untuk kehidupan ini,” begitulah nasihat Paman Will.
“Ini kuberikan dua raket warisan kakekmu. Silakan kalian berdua pakai. Walaupun tua, ini merupakan raket terhebat yang pernah Paman pakai,” ujar Paman Will sambil memberikan dua raket kepada Will dan Ana.
Tibalah hari pertandingan. Roni menatap Will dan Ana dengan angkuh.
“Kalian akan kalah. Aku merupakan putra terbaik badminton di hutan ini, kalian sia-sia dan membuang waktu datang melawan!” ejek Roni.
Will yang naik pitam ingin menghajar Roni ditenangkan oleh Ana.
Servis dimulai dari Will. Roni dapat menghalaunya dengan mudah. Ana menyambut dengan cekatan. Rini melakukan pukulan pamungkas. Ana terjatuh kewalahan menangkis kok. Memanfaatkan situasi, Roni segera melakukan smash tajam. Kok menukik di daerah tim Will-Ana.
Will membantu Ana berdiri seraya memberi semangat. Teriakan riuh penonton menambah ketegangan pertandingan. Suasana semakin semarak. Set pertama berhasil dimenangkan oleh tim Roni-Rini dengan skor 21-7. Skor yang cukup telak.
“Baiklah, kalian terlalu bermain terburu-buru. Bermainlah secara tenang, jangan terpaku dengan skor. Bersabarlah!” Paman Will mengarahkan Will dan Ana untuk set selanjutnya.
Set kedua berlangsung agak alot. Performa Roni dan Rini semakin menguat di set kedua ini. Tiga belas nol angka yang tercatat di papan skor.
“Teruskan dan bersabarlah!” teriak Paman Will dari pinggir lapangan.
Will dan Ana mengangguk. Mereka saling menyemangati. Secara ajaib, Will dan Ana berhasil menyamakan kedudukan hingga akhirnya berhasil mengalahkan Roni dan Rini dengan skor 21-19. Poin ke-21 disumbang oleh smash tajam Will yang menembus pertahanan Roni dan Rini.
“Set ketiga, bermainlah dengan bola rendah. Paman lihat mereka memiliki kelemahan di bola-bola rendah, good luck, Will-Ana!” Paman Will memberi semangat.
Will dan Ana mencoba menyerang melalui bola-bola rendah sesuai arahan Paman Will. Sayangnya, strategi itu dipatahkan oleh Roni dan Rini. Di set ketiga kali ini, merekalah yang menang karena mereka berhasil membaca alur pertandingan.
Pukulan-pukulan keras Roni dan Rini berhasil menghujam jantung pertahanan Will dan Ana. Will dan Ana dibuat jatuh bangun kewalahan menghalau serangan Roni dan Rini. Sebaliknya, entah sudah kelelahan atau mengapa, pukulan-pukulan Will dan Ana kerap melebar keluar dan lemah.
Skor berakhir di angka 21-10 dengan kemenangan untuk Roni dan Rini. Mereka mendapatkan medali emas. Sementara itu, Will dan Ana harus puas dengan medali perak mereka.
“Tak apa, jadikan sebagai ajang latihan pengendalian diri,” Paman Will mencoba membesarkan hati Will dan Ana.
Ketika proses pengalungan medali akan dilakukan, tiba-tiba ada seorang petugas kompetisi berlari ke arah panggung dan berbicara.
“Tim kami menemukan bungkusan senar di kursi pelatih Roni dan Rini, sepertinya ada penggantian senar di pertandingan ini,” ucapnya tegas.
“Tim pemantau kami telah menyelidiki lebih lanjut melalui rekaman CCTV. Kami menemukan pelatih Roni dan Rini mengganti senar tim Will dan Ana.
“Dengan ini, kami nyatakan pertandingan ini harus diulang!” ucapnya tersenyum.
“Tapi boong! Hiya hiya hiya!” lanjutnya sambil tertawa lebar.
Akhirnya, Roni dan Rini didiskualifikasi dan gelar juara pun menjadi milik Will dan Ana.
“Nanti malam kita makan bersama di restoran, ya!” ucap Paman Will dengan semangat sambil tos dengan kedua anak didiknya.
Di restoran, Paman Will dan istrinya, orang tua Ana, Will, dan Ana makan bersama merayakan kemenangan Will-Ana.
“Apa hikmah yang dapat diambil dari pertandingan tadi, Will dan Ana?” tanya Paman Will di sela makan.
“Olahraga bukan hanya soal kemampuan, tapi soal integritas!” ucap Ana semangat.
“Jangan berekspektasi terlalu tinggi, sakit nanti,” kata Will sambil memasang wajah sedih.
“Wah, ketahuan nih lagi kasmaran, hahaha.” goda Ana.
Will tersipu malu. Keenamnya pun tertawa. Akankah Will dan Ana menjelma menjadi Pak Rustam dan Bu Rustam di masa depan? Siapa yang tahu?

.png)

Posting Komentar