Seblak

"Pengin beli seblak, mau beli seblak." Kata-kata itu cukup sering saya temukan di media sosial. Seolah seblak merupakan hidangan yang begitu nikmat dan menjadi kegemaran untuk beberapa orang. Kuliner khas Sunda ini nyatanya, saya akui memang cukup sedap. Saya memiliki kisah tersendiri antara saya dan seblak.

Waktu itu, sekitar tahun 2017, ramai diperbincangkan di jagat media sosial tentang makanan berkuah dengan nuansa pedas bernama seblak. Saya yang baru tahu tentang seblak langsung dihinggapi rasa penasaran. Lantas, saya mengajak teman untuk menikmati makanan yang kental akan warna merah ini. Kala itu, saya akui bahwa saya sangat kurang dalam ketika melakukan riset tentang eksistensi warung seblak yang terkena jempolan. Dengan bermodalkan Google Maps, saya hanya mencari warung seblak yang lokasinya tak jauh dari sekolah saya. Bahkan, saya tak terlalu peduli dengan ulasan warung seblak tersebut. Moment of truth. Rasa seblak yang saya santap masa itu, sungguh jauh dari kata mengesankan. Rasa kencurnya terlampau pekat serta alasan-alasan lainnya yang membuat mulut saya sedikit bermusuhan dengan seblak. Saya betul-betul kurang bisa menikmatinya. Alhasil, sejak saat itu saya tidak mau menelan makanan bernama seblak, bahkan yang dimasak oleh koki tenar sekali pun.

Akan tetapi, 2024 telah mengubah perspektif saya tentang seblak. Berangkat dari ketika saya melihat story dari teman yang begitu memuji kenikmatan seblak, saya dan dia akhirnya memasuki gelanggang debat dengan topik berjudul "Kenapa ada orang suka seblak?" Kepala saya melunak di akhir sesi debat setelah teman saya berusaha memahami alasan saya ogah mengunyah seblak lagi. Dia merekomendasikan saya warung seblak favoritnya. Berhubung saat itu saya sedang dilanda kebingungan memilih menu makan makan siang apa, saya memacu motor untuk menjemput mangkok seblak kedua saya setelah sekian tahun lamanya absen membeli santapan ini.

Saat seblak diantar ke meja makan, saya menyeruput kuah panasnya dan menyendok hal-hal yang berenang di sana. Ternyata, rasa seblak tidak seburuk itu! Kencurnya tidak begitu mengganggu lidah. Semua terasa tersusun dalam harmoni yang seimbang. Sudut pandang saya kepada seblak, berubah seketika. 

Tanpa bermaksud menjatuhkan pihak mana pun, saya merasa bahwa ketika kita ingin mencoba sesuatu hal yang baru, seperti makanan, ada baiknya untuk menjajal mulai dari versi terbaik/populer yang disukai oleh mayoritas orang. Hal ini penting agar kita tidak buru-buru menilai sebuah makanan cocok atau tidak di lidah kita. Soal versi underrated/unpopular atau memutuskan untuk tidak suka atau kurang bisa menikmati, itu urusan lanjutan saat kita sudah mulai menjajal beragam versi dari sebuah makanan.

Posting Komentar