Oteng

Sejenak mencari mesin waktu dan menjelajah ke memori masa lampau yang tampak sudah berdebu. Kala itu aku masih bersekolah di sekolah dasar yang berjenjang enam. Kelas satu hingga dua merupakan masa aktifku berjajan ria. Mengingat guru memulangkan siswanya sebelum azan zuhur berkumandang. Ada sepetak tanah lapang di samping sekolah. Mungkin bagi orang lain, itu hanyalah sebidang tanah yang biasa. Namun, itu merupakan lapangan rezeki bagi sebagian orang yang berprofesi sebagai penebar senyum anak kecil.

Ada bapak tua yang rambut dan janggutnya sudah memutih, memarkir sepeda motornya yang hampir seluruhnya tertutupi oleh mainan yang menggantung. Dengan sabar, ia melayani lontaran pertanyaan dari anak-anak mengenai definisi barang dan harganya. Pernah suatu masa ia kesal kepada seorang anak yang bertanya terus-meneru mengenai harga dan tak kunjung membeli.

Ada pula lelaki seusia mahasiswa yang kepalanya tak pernah luput dari topi kebanggaannya. Ia menjual ketela yang dipotong seperti kentang goreng, kemudian ditaburi beragam bumbu nikmat yang dapat dipilih. Kerjanya yang cepat dan cekatan, ditambah produknya yang nikmat membuat anak-anak mengelilinginya.

Ada juga pria usia 40-an yang menjual produk kebanggaan Indonesia yang masuk ke semua kalangan, yaitu Indomie. Mi instan satu ini dijual secara murah oleh pria ini. Tempatnya? Memakai bungkusnya! Sendoknya? Memakai tusuk sate! Meskipun banyak yang menyangsikan kehigienisannya, ditambah lagi mi instan yang tak baik bila dikonsumsi terlalu banyak, lapak pria ini selalu ramai karena memang rasa Indomie tak terelakkan nikmatnya.

Sebuah gerobak juga tampak bertengger di tanah lapang itu. Pria tersebut menjual permen gulali yang akan dicemplungkan ke dalam plastik berisi aneka minuman bersoda, seperti fanta, coca cola, dan sprite. Dua asupan manis tersebut pastinya sungguh menggoda.

Ada jajanan legendaris pula, yaitu aneka sosis tempura yang digoreng dadakan dengan sambalnya yang merah menggoda. Nugget oranye yang menggungah selera, apalagi patrick yang lucu. Rasanya pun tak bisa dikatakan tidak enak.

Akan tetapi, tak hanya pedagang yang menjual produk. Ada juga pedagang amal. Dengan bermodalkan plastik kosong, ia mengharap iba kepada anak-anak yang berlalu lalang. Mereka yang peduli akan memberi tanpa pamrih.

Sepertinya hanya itu saja yang kuingat karena pedagang-pedagang itulah yang selalu tampil eksis. Ada beberapa pedagang yang hanya muncul sebentar karena mungkin produknya kurang diminati atau dia sudah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik sehingga terlupa olehku.

Meskipun guru-guru terus memberi imbauan untuk tidak jajan sembarangan dengan alasan bahannya berformalinlah atau memakai pewarna tekstillah, anak-anak sekolah tetap ngeyel untuk jajan.

Hingga suatu hari, mungkin pihak sekolah sudah geram dan kesal karena khawatir kesehatan anak didiknya, mereka pun melarang pedagang-pedagang itu berjualan. Bagaimana respons penjualnya? Ada kabar bahwa penjual mainan yang kerap disebut Pak Oteng-Oteng akan mengancam menjatuhkan bom di sekolah. Sontak, itu membuat sebagian siswa dengan mental kurang pemberani khawatir ia akan mati waktu tengah mengerjakan soal matematika yang konon amat sulit.

Kenyataannya? Sama seperti isu setiap sekolah yang katanya bekas rumah sakit – yang ada kamar mayatnya – atau bekas kuburan. Semua hanya omong kosong pada akhirnya.

Posting Komentar