Nada


Aku adalah siswa sekolah menengah atas tersohor di provinsiku. Perlu banyak perjuangan untuk bisa masuk ke sana. Aku harus belajar mati-matian ditambah berdoa kepada Allah agar nilaiku tinggi. Syukurlah, jerih payahku senilai dengan apa yang kudapatkan. Aku berhasil meraih sempurna di dua mata pelajaran ujian nasional, yaitu matematika dan ilmu pengetahuan alam. 

Jadilah aku masuk ke sekolah itu. Aku harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang benar-benar baru, termasuk juga dengan kawanku. Aku merasa kakak kelas di sekolah ini sangat menyayangi adik kelasnya. Mereka seperti bersifat amat menyambut tamu baru dan siap membimbing adik-adiknya yang baru saja tetas telur.

Selain itu, aku juga harus beradaptasi dengan kultur belajar. Ya, sekolah menengah atas bisa dibilang tidak sama lagi dengan SMP. Di SMP, pelajaran masih benar-benar diajarkan, sementara di SMA sudah seperti kuliah saja, harus mandiri mencari materi.

Hingga suatu waktu, aku melihat ada paras cantik di kelasku. Ya, mungkin sejak pandangan pertama aku mulai menyukainya dalam diam. Matanya yang sungguh elok. Wajahnya yang berseri. Senyumannya yang menawan hati. Terlebih lagi, suaranya yang amat indah.

Aku tak ingin mengungkapkan rasaku kepadanya. Aku memilih diam dan memendam rasa ini jauh di dalam lubuk hatiku. Untuk merasa bersama dengannya, aku yang memang menyukai sastra, menulis puisi mengenai dirinya, bahkan menulis cerita tentangnya.

Hingga suatu hari, aku telah mencapai puncaknya. Puncak bahwa aku merasa jatuh hati kepadanya. Aku yang bukanlah seorang musisi – hanya seorang penikmat lagu – tiba-tiba mendapat semacam ilham. Aku ingin menciptakan lagu untuknya. Seperti di cerita-cerita novel atau film, biasanya orang-orang yang tengah jatuh hati membuat lagu untuk kekasih atau orang yang disukainya. Aku pun ingin seperti mereka.

Aku tak bisa bermain gitar. Bermain piano pun kadang sering keseleo. Pernah punya riwayat menangis ketika pelajaran seni musik menambah daftar buruknya kiprahku dalam bidang itu. Akan tetapi, demi dia aku rela belajar dasar-dasar musik dan penciptaan lagu yang tersebar di internet.

Mulailah aku menekan tuts pianoku – kebetulan aku memiliki piano pemberian sepupuku --kemudian menyusun notasi-notasi dalam bentuk yang indah. Lantas, aku yang memang gemar dengan dunia sastra segera merancang larik-larik puitis nan romantis guna dileburkan dalam notasi tersebut. Jadilah, sebuah… eksperimen seni yang sedikit potensial. 

Setelah larik dan nada telah melebur menjadi satu kesatuan, mulailah aku merekamnya dengan suaraku yang pas-pasan sambil kuiringi dengan denting piano – jariku kerap keseleo ke tuts sebelahnya, jadi perlu banyak latihan.

Usai perekaman, aku mendengarkannya. Aku ingin tertawa dibuatnya. Kubakar itu di dalam diska kompak lalu kusimpan dalam tempatnya yang telah kudesain sedemikian rupa bertajuk my first single dengan tulisan mini for her.

***

Tepat di hari ulang tahun ketiga puluh lagu tersebut, aku menemukannya dan memutarnya bersama istri dan anak sulungku. Anak sulungku tertawa terbahak-bahak mendengar usaha ayahnya yang lumayan nekat. Sementara istriku hanya bisa tersenyum-senyum. 

Tiga tahun setelahnya, kudengar kabar bahwa dirinya, sang pemilik paras merona, telah bercerai dengan suaminya. Padahal, seluruh teman seangkatanku memuji mereka sebagai pasangan idaman karena jauh dari pertikaian, apalagi gosip orang ketiga. Allah telah memanggilnya. 

***

Dua tahun setelahnya, aku menawarkan lagu ciptaanku ke salah satu musisi tersohor negeri. Ia tertarik membawakan laguku, padahal laguku telah berusia 35 tahun lamanya. Lagu ini sangat visioner dan tak lekang oleh waktu, begitulah pujinya waktu itu. Setelah laguku dinyanyikan olehnya, laguku menjadi hits di seantero negeri. Video klipnya direncanakan akan dibuat dan aku diberikan hak istimewa untuk merancang seluruh konsep, bahkan menyutradarainya secara langsung.

for my parents, my children, my wife, and HER.

tentang rasa yang tak sempat terucap.


Posting Komentar