Foto

Sejujurnya, saya lebih menyukai video dibandingkan foto. Menurut saya, video terasa lebih nyata. Video itu bergerak dan bersuara. Sementara, foto hanyalah sebuah penghentian waktu yang dimasukkan ke dalam suatu bingkai. Ya, itu hanyalah pendapat saya.

Kalau bicara foto, saya teringat dengan lagu Tulus yang berjudul "Monokrom", lembaran foto seakan mampu menjadi pemandu wisata ke masa lampau. Momen berharga itu dipaksa untuk berhenti untuk proses pengabadian. Dengan alasan momen itu akan dikenang di masa depan. Nostalgia.

Orang tua saya gemar melakukan pekerjaan pengabadian momen ini. Waktu itu, kamera belum secanggih sekarang yang sudah serba digital. Kamera masih menggunakan film. Film tersebut akan dikonversi menjadi foto cetak. Semuanya akan dikumpulkan menjadi album. Saya gemar membolak-balik album foto yang telah dibuat oleh orang tua saya untuk sekadar mengunjungi momen di masa lampau. Sungguh, mesin waktu itu nyata adanya, tapi dalam bentuk imajinasi dalam pikiran.

Foto yang tampak seperti momen beku juga menjadi sebuah ajang cerita. Dari kebekuan itulah, foto sebenarnya ingin memberi sebuah petunjuk. Berbeda dengan video yang terkadang menceritakan cerita dengan gamblang. Ada cerita di balik setiap foto yang harus kita ingat kembali. Kadang ini bisa melatih ingatan kita. Saya pernah membuat sebuah kutipan untuk acara komunitas jurnalistik saya.

“Ketika sebuah momen telah tertangkap, seribu memori tengah bersiap,”

Di balik setiap foto, di balik setiap momen yang diambil, ada ribuan, bahkan jutaan memori atau cerita yang terkandung. Karena foto tidak menceritakan secara gamblang kisahnya, timbul berbagai persepsi bagi setiap orang yang memandang atau yang mengalaminya. Ini membuat cerita di dalam foto menjadi beragam dan kaya.

Saya punya kawan semasa sekolah menengah. Ia tak gemar difoto, saya heran. Dia pernah mengatakan alasannya, bahwa ia malu. Saya mencoba menasihati, bahwa fotografi adalah sebuah pekerjaan visioner. Semua bisa dikenang di masa depan. Keyakinan saya tersebut memang sungguh terjadi. Saya banyak mengenang masa lalu melalui foto yang pernah diambil.

Dahulu, orang-orang menyimpan foto penuh kenangannya di dalam sebuah album foto fisik. Album foto fisik memang rentan akan kerusakan. Akan tetapi, sensasi membuka album foto fisik sungguh tak tertandingkan. Aroma khas yang dihasilkan oleh kertas foto serta sensasi membolak-balik halaman album sungguh merupakan pengalaman yang luar biasa. Apalagi, kalau album itu dibuka bersama orang terkait, senyum, tawa, dan cerita pasti akan ramai berkumpul.

Akan tetapi, album foto fisik kini telah beralih ke media penyimpanan lain. Biasanya, orang menyimpan foto-foto penuh kenangannya melalui harddisk. Bahkan, ada pula yang menyimpannya di penyimpanan awan. Semua penyimpanan tersebut dianggap lebih aman dan memiliki risiko kehilangan atau kerusakan yang relatif kecil.

Namun, apapun penyimpanannya, makna foto sebagai momen beku penuh cerita yang memiliki kemampuan mesin waktu tak akan lekang dimakan waktu.

Mari berfoto ria!

Posting Komentar