Sebuah Motivasi

Hari ini aku akan mengikuti seminar di sebuah gedung tak jauh dari kampusku. Seminar itu bertajuk bagaimana cara membangkitkan kembali semangat hidup. Ya, aku tengah butuh semangat hidup karena tengah diterpa tugas banyak dan mata kuliah yang tak kunjung masuk ke otak. Alhasil, aku mendaftarlah seminar itu yang harga tiketnya setara sekali nonton film di bioskop termurah di kotaku, tiga puluh ribu rupiah saja.

Seperti yang sudah diajarkan orang tuaku semasa aku kecil, aku adalah orang pertama yang hadir di tempat seminar itu. Panitia terkejut karena kehadiranku yang amat pagi, bahkan mendahului sang motivator yang kelak akan mengisi acara pada hari itu. Seperti biasa, aku diberikan seminar kit, semacam buku notes dan pulpen yang mereka produksi sendiri.

Singkat cerita, ruangan sudah penuh. Motivator telah hadir dengan senyuman semangatnya ditambah penampilannya seolah ia merupakan orang paling termotivasi kala itu. Acara pun dimulai. Aku mendengarkannya dengan baik. Sambil menulis poin penting yang disampaikan sang motivator. Aku menoleh melihat keadaan sekitar. Ada beberapa peserta yang mengantuk, entah ia memang kurang tidur atau penjelasan motivatornya kurang menarik. Ada yang sibuk bermain ponselnya, takut kehilangan eksistensi di dunia maya. Ada pula yang sibuk memperhatikan, bahkan saking konsentrasinya, serangga menempel di kulitnya – serangga mengira dia benda mati yang tidak mengancam. Jadilah mereka berdua menjadi musuh dan meletuslah perang dunia.

Aku pulang ke rumah, membaca kembali poin-poin penting tadi dan mencoba mempraktikkannya sehari-hari. Tidak sulit di awal dan aku amat semangat menerapkannya. Akan tetapi, entah mengapa dari hari ke hari semangatku itu luntur. Konsisten memang sulit. Entahlah, aku mungkin akan mencoba membangun di lain hari. Entah sampai kapan rencana ini akan mengendap sebagai wacana hidup.

Posting Komentar