Mengenang Hujan

Di sore hari ini, ditemani oleh suara rintik hujan yang perlahan menderas. Dilingkupi cahaya yang temaram. Aku memikirkan sesuatu, kemudian lekas saja kutuliskan, kuabadikan dalam medium ini agar kelak tak terlupa. 

Pada hari ini, aku tengah berusaha melawan masa lalu dan masa kini. Masa lalu yang manis, bahwa aku pernah bersamanya. Pernah mengukir cerita-cerita indah yang membuatku tersenyum setiap malam menyelimuti. Bersamaan dengan cerita itu, hadir pula cerita-cerita sedih yang menyakitkan. Ingin sekali rasanya cerita-cerita sedih itu kulupakan dan kuperintahkan kepada otakku untuk menghapusnya dalam memori. Sayangnya, hingga kini aku tak bisa melupakan seluruh cerita indah dan cerita sedih itu. Masih melekat di dalam hati. Masih tersimpan dan terkenang di dalam memori berjuluk ‘Kenangan Terindah’. Pada saat itulah, fase aku merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya, mencoba menjalin suatu hubungan dengan seseorang yang lain, mencoba merawat, dan menjaganya. Pengalaman pertama, sulit dilupakan. Entah apa yang direncanakan semesta atas pupusnya hubungan ini. Entah kebaikan apa yang akan diberikan Tuhan untukku. Hingga kini aku masih mencoba mencari hikmahnya. Hingga kini aku masih terus-menerus berlari darinya, mencoba melupakannya, dan memulai hari yang baru dengan kanvas kosong putih.

Di saat aku tengah mencoba melupakan dan mengambil hikmah dari kejadian masa lampau, tibalah di masa kini. Ada sesosok perempuan yang tiba-tiba hadir di hidupku. Aku tak menggubrisnya, selain tidak ingin geer, aku juga belum bisa mengobati goresan lukaku yang amat mendalam di masa lampau dan belum bisa melupakannya. Intinya, aku belum bisa sembuh total dan menerima semuanya. Sosok perempuan itu menjauh dariku entah mengapa, bahkan aku sendiri tak menyadarinya ia beranjak pergi, transisinya amat halus sekali laiknya angin yang berembus di pantai bersama deburan ombak. Tak lama kemudian, aku bersamanya kembali dekat. Aku berpikir inilah sebuah harapan baru, menjalin hubungan bersamanya. Hingga aku dan dia berada di suatu puncak yang mengakibatkan kedekatan ini runtuh dan seakan menggelinding dari puncak itu sendiri. Aku tak mengerti apa yang terjadi. Aku hanya bisa berprasangka, merenung, dan terus-menerus berpikir tanpa mempunyai keberanian sedikit pun untuk bertanya sejujurnya kepadanya. Antara aku yang tak kunjung berani menyatakan rasa atau dia yang sakit karena sudah lama menanti. Ya, pada akhirnya dia pun juga pergi seperti masa lampau. Pagi ini aku mendapat sebuah sudut pandang baru, bahwa ia tak mau denganku karena aku belum bisa menerima masa lampauku. Aku belum bisa melupakan masa lampauku. Aku belum bisa berdamai dengan masa lampauku. Tentu ini membuatku sedikit berpikir.

Kini mereka berdua telah menjadi masa lampauku. Aku belum bisa melupakan keduanya hingga kini. Aku hanya berharap kepada Tuhan, semoga Dia memberiku yang terbaik sesuai apa yang telah dikadarkan oleh-Nya.

Posting Komentar