Lelah

Diam menjadi bergerak. Ingin sekali raga dan jiwa ini bergerak untuk menghindari sebuah jebakan. Jebakan yang tak memiliki jalan akses dengan dunia luar. Sudah lelah diri ini terhadap stagnasi yang dari hari ke hari kian menjadi. Lelah. Lelah. Lelah. Aku teramat lelah. Kemudian, datang sebuah pikiran hasil kontemplasi diri yang mengarahkanku pada jalan untuk bergerak. Seolah tangan semesta tengah meraihku, mengajakku berjalan sejenak menikmati dunia, keluar dari jebakan yang selama ini memenjara sukma dan raga.

Dengan perlahan, aku mulai berjalan di bawah naungan semesta. Aku melihat kanan, kiri, atas, dan bawah yang ternyata amat indah. Keadaan di luar sungguh jauh mengesankan, melampaui batas imajinasiku semasa di jebakan. Namun, berjalan ini rasanya kurang cepat. Aku ingin mengeksplorasi semesta. Rasa ingin tahuku triliunan kali memuncak menghancurkan batas ukurnya. Aku mulai berlari dan terus berlari. Mencari dan mengobservasi, semua kulakukan dengan berlari. Akan tetapi, rasa lelah yang dulu pernah menyapa kembali ke pangkuanku. Aku berhenti karena kehabisan tenaga. 

Semesta memelukku seraya berkata, “Rehatlah sejenak. Setelah cukup kuat, berjalanlah perlahan.”

By the way, ngomongin soal "Rehat", jadi teringat lagunya Kunto Aji dengan judul yang sama:

Posting Komentar