Jendela

Karna dan Iman adalah dua sahabat yang tinggal di sebuah kompleks perumahan. Rumah mereka bersebelahan sehingga mereka adalah tetangga. Karna tidak menyukai jendela, jadi tak ada satu pun jendela yang terpasang di rumahnya. Lain halnya dengan Iman, ia amat memperhatikan pemasangan jendela sesuai ajaran orang tuanya.

Pendingin ruangan terpasang di dalam rumah Karna sehingga suasana dan hawanya amat sejuk. Cahaya di dalamnya pun berasal dari lampu yang seolah-olah seperti cahaya matahari karena teknologinya yang luar biasa canggih. Rumah Karna amat tertutup, hanya ada satu jalan untuk keluar masuk, yakni pintu kayu. Walaupun begitu, ia juga seorang pemerhati lingkungan. Semua daya listrik yang ia gunakan berasal dari panel surya serta kincir angin buatan tangannya.

Sementara itu, udara alami nan segar yang hilir mudik di dalam rumah Iman membuat suasana rumahnya tampak natural. Cahaya matahari menerobos melalui jendela besar yang dibuat oleh Iman sesuai gaya minimalisme sehingga terkesan elegan. Tetangga sekitar menjuluki rumah Iman sebagai “rumah jendela” karena desain jendelanya yang amat ciamik. Walaupun begitu, ia pun kadang dibuat kepanasan oleh sinar mentari yang masuk tanpa pandang bulu. Ia kadang harus meraih bukunya guna meredakan keringat yang bercucuran.

Di pagi hari yang cerah, Karna dengan setelan jas rapinya beserta tas dalam genggamannya lewat di depan rumah Iman. Kala itu, Iman tengah menyiram tanaman yang tumbuh di jendelanya.

“Hei, jangan lupa nanti malam ada parade lho! Tapi, nggak boleh mendekat! Soalnya itu parade api! Lihatnya dari rumah aja, Kar!” seru Iman.

“Baiklah, terima kasih atas informasinya, Saudara Iman. Aku akan melihatnya sepulang kerja melalui celah pintu rumah kesayanganku,” ujar Karna dengan gaya bahasa baku sambil berlalu.

Malamnya, parade api pun tiba. Parade itu melewati seluruh rumah yang ada di kompleks perumahan.

Dum dum dum. Duar duar duar.

Iman yang mendengar keributan itu segera beranjak dari tempat duduknya, membuka jendela pada malam yang dingin – yang akan terpanaskan oleh api sejenak – untuk melihat parade api yang lewat.

Karna yang tertidur di atas meja kerja di rumahnya mendadak terbangun karena suara parade api. Ia pun bergegas menuju pintu rumahnya, tetapi tak ada kunci yang menggantung. Ia pun panik berusaha mencari kunci di segala kemungkinan tempat. Sayangnya, upayanya tak membuahkan hasil. Karna pun merenung, kemudian menangis. Parade api yang diselenggarakan empat tahun sekali itu, hanya ia bisa dengarkan suaranya tanpa bisa ia lihat. Karna pun memutuskan untuk tidur.

Esok harinya, Karna berangkat kerja melewati rumah Iman yang tampak asyik mencium aroma tanaman di jendelanya.

“Bagaimana parade api semalam, Kar?” tanya Iman antusias.

“Sepertinya dalam waktu dekat, aku harus memasang jendela sepertimu,” ucap Karna terkekeh.

Keduanya pun tertawa.

Bagaimana Karna bisa keluar dari rumahnya? Kunci rumahnya ternyata ada di kantong setelan jasnya.

Posting Komentar