Bermimpi itu Jangan Rendah-Rendah!

Fase penggarapan tugas akhir menandakan bahwa status mahasiswa saya akan segera berakhir. Di titik itu lah saya merasakan goncangan batin disertai pikiran yang tak tentu arahnya. Mau jadi apa ya setelah lulus nanti? Mau bekerja di mana?  Terlebih, saya merasa memiliki banyak opsi dalam menentukan perjalanan hidu selenjutnya. Selain itu, asumsi-asumsi seputar kejam dan beratnya situasi lingkungan kerja nantinya, membuat diri saya menjadi kerdil. Apa iya saya layak untuk bekerja di posisi tersebut? Emang betul, ada perusahaan yang akan melirik eksistensi saya? Akankah saya selamat? Alhasil, angan-angan saya yang semula mengidam-idamkan sesuatu yang besar, drastis berubah menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja bahkan cenderung mini. Terlebih, setelah diperkuat narasi yang dibangun dalam film yang saya saksikan Desember lalu, "Perfect Days" garapan Wim Wenders. Film tersebut memotret rutinitas seorang bapak-bapak pembersih toilet umum dalam sehari yang mungkin bagi sebagian orang dianggap terlalu membosankan. Meskipun begitu, dirinya berupaya untuk mensyukurinya dan berbahagia atas hal-hal sederhana pada dirinya yang sering dianggap "remeh" sebagaimana dititahkan oleh standar masyarakat. 

Namun, akhir-akhir ini saya kembali tertampar terhadap perkataan orang-orang terdekat saya. Mereka berkata, bahwa saya sebenarnya bisa lebih dari ini. Mimpi kok rendah-rendah, sayang banget udah sejauh sini, begitulah beberapa suara teranyar yang bertandang dalam otak saya. Mulanya, saya menepis gagasan tersebut dengan anggapan bahwa "semua sia-sia, toh hidup juga akan berakhir." Lantas, kini saya mulai menyadari suatu hal usai melakukan rentetan refleksi dalam diri. Iya, memang hidup akan berakhir. Semua fana. Tapi, bukankah seharusnya sebelum tiba garis finish, kita diberi kesempatan berjuang untuk meninggalkan jejak dan mengukir warisan? Lagipula, Soekarno pernah bilang bahwa bermimpilah setinggi langit, bila terjatuh niscaya engkau akan terjatuh di antara bintang-bintang. At least, you tried.

Untuk yang kepikiran menyerah, silakan dengar ini:

"Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan." (Sutan Sjahrir)

Posting Komentar