Aku dapat melihatnya dengan jelas. Dua bola itu terjatuh dari mobil bak terbuka berwarna putih. Mereka meninggalkan kawanannya. Sebetulnya rekan-rekannya tersadar akan hal itu, tetapi mereka tak punya mulut. Apalagi, bahasa mereka tentu berbeda dengan bahasa sopir yang notabene berwujud manusia. Tak akan tersambung hingga kapan pun. Jadilah kawan-kawan mereka seolah menjadi saksi bisu adegan dramatis tersebut. Akan tetapi, dalam bahasa bola, mereka berteriak menjerit panik. Mungkin saja niat hati mereka hendak menolong, tetapi dengan permukaan tanpa sudut, bisa-bisa malah membuat keseluruhan bola celaka karena sibuk bergelinding satu sama lain. Sopir bisa jadi kena marah pemilik toko kelontong yang akan dituju, jikalau seluruh bola berantakan, lebih-lebih membanjiri jalanan. Sungguh momen yang amat merepotkan bagi seseorang yang tugasnya hanya menyetir, menaikkan, dan menurunkan muatan bola.
Dua bola tadi menggelinding mengarungi aspal. Beberapa sepeda motor menghindar. Sementara satu bola lainnya, tersangkut beberapa meter di bagian bawah mobil. Bola itu lalu berlabuh di kaki anak-anak yang sedang berjalan bersama. Tangan mereka asyik menggenggam leher plastik yang berisikan es pop warna biru dan merah jambu menyegarkan. Pupil mata mereka mendadak melebar maksimal sebab melihat bola baru berwarna biru. Wah, asyik, bisa bermain sepak bola nih, mumpung belum azan Maghrib, begitu pikir mereka. Seorang anak yang minumannya sudah kandas meraih bola biru itu dan lekas berlari memimpin temannya menuju lapangan bola. Mereka bermain bersama dengan penuh kegirangan karena berhasil saling mencetak gol. Pertandingan dinyatakan usai setelah azan Maghrib berkumandang. Anak-anak itu bergegas lari pulang ke rumahnya masing-masing meninggalkan bola biru sendirian.
Pak Tua bercaping melintasi lapangan bola. Sambil memanggul cangkul, ia melihat bola biru yang terlihat mentereng dalam gelap malam. Pak Tua terhenti. Ide cemerlang berpendar dari bawah caping yang dikenakan olehnya. Dia berlari-lari kecil mengambil bola biru yang sudah terkena noda di sana-sini berkat sepakan sekumpulan anak-anak tadi. Akan kujadikan sebagai kepala orang-orangan sawah saja, begitulah idenya. Esoknya, bola biru itu benar-benar bertengger menjaga sawah. Burung-burung yang biasa mengganggu sawah Pak Tua lenyap seketika. Sepertinya, bola biru tersebut dikira kepala manusia oleh kawanan hewan bersayap itu. Pak Tua sesekali juga mengajak bola biru itu bercerita. Dia bersyukur memiliki teman seperti bola biru untuk mengusir sepi, meskipun hanya benda mati semata. Hey, andai bisa kukatakan padamu, Pak Tua, bahwa bola biru itu meresponsmu dalam hening. Bahasanya saja yang berbeda! Ia sungguh pendengar yang baik, menurutku. Selamat, Pak Tua!
Tunggu, bagaimana dengan bola pertama? Bola itu berwarna merah. Ia sebetulnya tak betul-betul keluar dari jalan beraspal tempat ia terjatuh. Seharian waktunya dihabiskan untuk memikirkan cara kembali ke mobil bak terbuka. Ia bertekad untuk berkumpul dengan teman-temannya di toko kelontong yang dituju sopir. Dengan segala kecerdikan, ia bekerja sama dengan angin, aliran air, dan pertanda-pertanda alam lainnya. Ia memang sangat pandai karena pada akhirnya ia betul-betul tiba di toko kelontong secara misterius dengan penuh konspirasi. Namun, tampaknya tak ada yang bisa diceritakan lagi selain itu. Kepandaian yang berguna untuk dirinya sendiri. Menemukan jalan pulang. Sebatas itu.

.png)

Posting Komentar