Selasa bersama Morrie memiliki kandungan dua ratus sepuluh halaman yang bisa saya katakan tak terlalu tebal, jika dibandingkan dengan novel-novel yang kebanyakan beredar. Bab demi bab yang saya pindai relatif berdurasi singkat. Ekspektasi saya cukup besar terhadap buku ini lantaran kepopulerannya di mana-mana. Dengan mengarungi waktu setiap hari Selasa bersama Morrie, saya menaruh harap akan memperoleh pencerahan seputar makna kearifan hidup. Ditulis oleh Mitch Albom, buku berselimutkan memoar ini mengisahkan hubungan antara dirinya sebagai mantan mahasiswa dengan sang dosen, Morrie, yang akan memberikan kuliah terakhirnya sebelum penyakit ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis) perlahan-lahan mengantarkan mahaguru menuju tempat peristirahatan terakhir.
Menurut saya, buku ini agak membosankan pada permulaan. Saya sempat terhenti pada lima puluh halaman pertama karena kesan yang saya dapatkan agak datar dan hambar. Namun, dengan niat yang terkumpul di hati, saya berusaha menikmati setiap rangkaian kata dan berhasil menyelesaikan buku tersebut. Buku bersampul biru muda ini tak melulu bicara soal kuliah-kuliah terkait kehidupan yang diberikan oleh Morrie kepada Mitch Albom. Lebih dalam lagi, Mitch Albom juga mengupas sisi-sisi dirinya sendiri -- yang berkelindan dengan alur buku -- serta hubungan interpersonalnya dengan sang dosen, Morrie. Saya bisa mengatakan bahwa ini merupakan cara Mitch Albom untuk menyentuh hati pembaca agar mereka tak hanya sekadar memeroleh pelajaran hidup semata, tetapi juga mengetahui latar belakang Morrie. Lebih-lebih ketika mengetahui kenyataan bahwa kondisi Morrie makin prihatin dari waktu ke waktu.
Secara garis besar, rangkaian kuliah terakhir tentang makna hidup yang diberikan oleh Morrie setiap hari Selasa selama empat belas pertemuan memang terasa begitu singkat. Namun, tuturan-tuturan Morrie mengenai kehidupan begitu padat dan sarat makna. Oleh sebab itu, mungkin memang dibutuhkan diskusi secara mendalam bagi orang-orang yang sedikit kebingungan saat membaca Selasa bersama Morrie. Satu hal yang saya kagumi dari kisah buku ini adalah betapa Morrie merupakan sosok guru yang begitu dicintai sampai-sampai mantan mahasiswanya, Mitch Albom, menemukan jalannya kembali kepada sang guru yang tengah menanti detik terakhirnya untuk pulang. Saya akan mengutip empat pelajaran menarik yang diajarkan oleh Morrie karena empat dari empat belas Selasa ini yang membekas dan dapat dipahami oleh benak saya.
Pelajaran:
1. Tentang Emosi. Jangan pernah takut dan menghindar untuk merasakan emosi secara utuh. Apabila sedang merasakan emosi sedih atau cinta, biarkan emosi tersebut mengguyur sekujur tubuh. Tak perlu jeri akan derita yang akan dialami karena emosi-emosi tersebut. Nikmatilah kesedihan dan sakitnya cinta dengan mendengarkan lagu-lagu galau masa kini. Menangislah, bila perlu! Setelah berhasil menyatu dengan emosi tadi, harapannya kita akan lebih memiliki kendali penuh atas diri sendiri dan menyadari bahwa masih ada emosi lain yang dapat dirasakan.
2. Tentang Takut Menjadi Tua. Sebagian orang beranggapan usia uzur adalah sesuatu yang agaknya berusaha sebisa mungkin untuk dihindari. Ungkapan seperti tidak lagi muda sehingga tak bisa melakukan apa-apa karena kemampuan fisik yang terbatas, membuat orang-orang ciut nyali dalam menghadapi proses penuaan yang tak terelakkan. Morrie memberikan perspektif lain soal menjadi tua, bahwa tua bukan berarti menuju rusak. Menurutnya, tua berarti proses bertumbuh. Seiring waktu yang telah dilalui selama puluhan tahun, kisah-kisah tersebut memberikan manusia pengalaman berharga yang bisa dijadikan sebagai pelajaran hidup. Terlebih lagi, ketika seseorang sudah berada pada fase tua, terkadang mereka sudah memahami bahwa waktu yang tersisa takkan berlangsung lama lagi. Mereka akan berusaha menjalankan kehidupan sebaik mungkin yang mereka sanggup.
3. Tentang Uang. Ketika seseorang membeli benda duniawi dengan uang berlimpah, dirinya berharap akan mendapatkan kebahagiaan yang menyapa batinnya dari sana. Namun, ternyata itu bukanlah betul-betul kebahagiaan sejati. Kebahagiaan sejati yang dimaksud oleh Morrie adalah ketika kita memberikan waktu atau rasa peduli kepada orang lain. Tidak harus dengan mengajarkan keterampilan yang kita miliki kepada orang lain. Kita bisa menjadi pendengar cerita dari orang-orang yang merasa kesepian. Itulah alasan Morrie tetap ingin mendengarkan surat berisi cerita dari orang lain, padahal dirinya sedang menderita penyakit dan tengah menanti ajal. Morrie beranggapan dengan meluangkan waktunya dan peduli kepada orang lain, dia merasa bahagia sehat.
4. Tentang Maaf. Ajakan untuk berdamai dengan diri sendiri dan orang lain. Alih-alih melawat ke masa lalu dengan kata "seandainya dulu": aku melakukan lebih baik dan berusaha lebih keras lagi atau aku tidak melakukan hal-hal merugikan diri sendiri, alangkah lebih elok mensyukuri hal-hal yang sudah terjadi dalam garis waktu kehidupan kita. Semuanya memang sudah seharusnya terjadi dan momen-momen tersebut sudah jauh tertinggal di masa lampau, tak dapat diotak-atik kembali. Kemudian, keengganan manusia menurunkan ego untuk memaafkan orang lain yang disebabkan kobaran api dendam dan amarah. Semua itu pada akhirnya takkan berguna, jika kematian menjemput salah satu dari mereka yang bertikai. Bibit-bibit penyesalan perlahan akan mulai tumbuh dan menggrogoti tubuh sendiri. Oleh sebab itu, selagi jantung masih mengalun, tidak ada salahnya untuk memaafkan diri juga manusia-manusia di sekitar.
Kadang-kadang, ketika kita kehilangan seseorang, kita cenderung berpegang pada tradisi apa pun yang menghubungkan kita dengan kenangan tentang orang itu." (Mitch Albom)



Posting Komentar