Balik Bersepeda

Sekitar enam tahun silam, saya aktif sekali bersepeda. Kegiatan mengayuh pedal tersebut saya lakukan hampir setiap hari untuk menempuh perjalanan pulang pergi sekolah. Udara segar pagi hari dan jalanan yang relatif sepi dari kendaraan bermotor menemani ekspedisi pagi saya. Sesekali, saya juga berjumpa dengan orang-orang yang berjalan kaki untuk berolahraga. Saya memilih berangkat pagi buta karena matahari belum terik ditambah lagi jalan belum macet sehingga kegiatan bersepeda ini bisa dijalankan dengan santai. Sekolah saya cukup jauh, jaraknya sekitar tiga belas kilometer. Jadi, dalam sehari, bisa dikatakan saya mengarungi jarak sekitar dua puluh enam kilometer. Angka yang lumayan, bukan? Memang, masa awal-awal saya kerap mengeluh letih karena belum terbiasa. Akan tetapi, seiring tanggal di kalender yang menyilang dirinya, kegiatan merotasi pedal ini tak begitu melelahkan karena sudah kerap dilakukan.

Dengan jarak yang lumayan jauh, tentu waktu yang dibutuhkan juga berbanding lurus. Oleh sebab itu, saya mengakalinya dengan tidak mengenakan seragam terlebih dahulu, bisa-bisa seragam saya basah kuyup mandi keringat. Saya memakai kaus biasa agar keringat berbasah ria terlebih dahulu di sana. Sesampainya di sekolah, saya biasanya mengusir keringat dengan duduk di bawah kipas angin, juga dibantu oleh buku atau kertas yang saya jadikan sebagai kipas darurat. Oh iya, tak lupa juga saya menenggak air mienral untuk melegakan kerongkongan yang kering dan menggantikan cairan tubuh yang hilang.

Dalam kurun waktu enam tahun itu, kegiatan bersepeda saya terhenti. Hal ini dikarenakan sepeda motor menjadi pilihan utama. Moda transportasi tersebut dianggap lebih cepat dan tak terlalu menghabiskan tenaga manusia karena ditenagai mesin dan bensin. Akibatnya, sepeda saya pun jarang dipakai karena saya sudah telanjur nyaman dengan sepeda motor yang ternyata lebih praktis. Kemudian, badai pandemi pun menerpa dunia. Kalau tidak salah, kegiatan sepeda ini sempat viral. Orang-orang beramai-ramai bersepeda di jalanan, bahkan ada pula yang rela merogoh kocek guna membeli sepeda baru dalam rangka mengikuti tren ini. Namun, saya bergeming kala itu. Pilihan di rumah saja lebih baik untuk menangkal virus yang merajalela ini. 

Pada awal bulan Desember 2021 ini, saya mulai kembali bersepeda. Rasanya agak sedikit berat dan meletihkan karena sudah lama tak rutin bersepeda. Akan tetapi, saya menjalaninya dengan hati yang riang sebab bersepeda seperti melancong ke memori masa lalu yang pernah rutin saya lakukan. Kala saya pernah kuat mengarungi jalanan dengan kayuhan sepeda tanpa henti setiap hari.

Di ujung tulisan ini, saya akan menyampaikan pelajaran-pelajaran yang pernah saya refleksikan ketika kerap bersepeda enam tahun silam. Sepeda itu tak secepat tarikan gas sepeda motor. Ia lambat sehingga kita dipaksa untuk berpindah tempat dengan waktu yang berdetak pelan. Kadang, waktu yang melambat ini membuat kita menikmati suasana jalanan sekitar. Bahkan, pernah ada ungkapan bahwa ketika kita mengayuh kereta angin, kita ternyata baru tersadar bahwa banyak tempat-tempat yang kita lewatkan karena sepeda motor yang bergerak terlalu cepat. Slow down, tidak terburu-buru. Selain itu, bersepeda yang mengandalkan tenaga manusia ini juga menuntun kita untuk beristirahat sejenak di tengah-tengah kehidupan yang tampak bergerak berbalap-balapan. Saya sering berhenti di toko pinggir jalan untuk membeli minuman sambil beristirahat di emperan tokonya. Rest, terkadang kata menyerah bukanlah sebuah opsi, apalagi hingga melangkah mundur. Jika lelah, tampaknya itu merupakan tanda bahwa sudah seharusnya bagi kita mengambil jeda sejenak, menyusun tenaga untuk dapat kembali melangkah maju.

Posting Komentar