Ada sebuah jawaban yang mesti dihafal ketika saya menempuh bangku pendidikan dasar dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Jika ditanya dalam ujian: mengapa manusia tidak bisa hidup sendiri? Respons yang dianggap tepat adalah sebab manusia merupakan makhluk sosial yang tak dapat hidup sendiri. Mari kita gulir galeri waktu sejenak berjalan menuju titik awal kehidupan. Kita akan menemukan titik-titik yang memvisualisasikan bahwa ada momen-momen tertentu kala kita tak sendiri. Mungkin ada sebagian dari kita yang pernah bermain penuh ceria di sebuah wahana saat masih kerap merengek pada orang tua. Di balik keasyikan itu, terkadang ada perjumpaan dengan teman kilat. Pertemuan dua bocah sepantaran yang bahkan tak sempat bertukar nama karena pikiran yang belum dewasa. Namun, percakapan-percakapan singkat itu hangat untuk dikenang. Juga semasa gawai belum semarak kini, anak-anak dahulu bermain bersama menghabiskan sore dengan aneka permainan pengundang tawa yang tak jarang menimbulkan tangisan atau amarah jika ada kecurangan. Akhirnya, semua itu harus reda ketika azan Maghrib berkumandang. Pulang ke rumah.
Beranjak dewasa menuju bangku-bangku sekolah yang makin meninggi, sebagian dari kita membentuk kelompok bermain yang melakukan pertemuan berulang, seperti makan bersama atau menginap di salah satu rumah kawan. Akan tetapi, ada pula beberapa dari mereka yang lebih nyaman dengan teman yang berkuantitas seadanya, tetapi interaksinya lebih berkualitas. Tak ada yang salah pada akhirnya sebab ada persamaan yang tersorot, yaitu kita sama-sama membutuhkan orang lain.
Namun, dalam dinamika pertemanan sosial itu, kita dihadapkan oleh berbagai tantangan. Sering ditemukan janji-janji terlanggar atau terpaksa dicoret yang disebabkan oleh pengaruh waktu dan keadaan yang harus memisahkan antarmanusia. Pernah terikrar pernyataan untuk terus bersama, untuk tidak melupa satu sama lain, untuk tetap saling mendukung, meski sudah berbeda dunia kehidupan. Sayang, janji tinggal janji. Ia memudar begitu saja seperti air laut yang menghapus goresan di atas pasir pantai. Kondisi sudah tidak lagi memungkinkan untuk berjumpa seperti sediakala dan teman baru telah hadir menggantikan sahabat lama.
Tak ada yang salah sebetulnya karena lagi-lagi: perubahan adalah hal yang mutlak terjadi. Tapi, tampaknya bukanlah sebuah dosa jika sesekali kita menghubungi kawan lama atau mengajak mereka berkumpul untuk bincang santai sambil diliputi uap kopi di malam hari, alih-alih menghilang dalam ketidakjelasan tak berkesudahan. Ingat, mereka pernah berjasa dalam kehidupan kita.

.png)

Posting Komentar