Dua mobil saling beradu pandang di jalan kecil beraspal. Motor-motor berjejalan mengisi ruang kosong di buritan setiap mobil. Sebagian mereka yang tak mau tahu, membunyikan klakson hingga keriuhan memenuhi jalanan. Sementara itu, ada pula yang menyelipkan tangan di helm untuk memberi celah kesegaran angin untuk menyapa rambut. Matahari senja sangat menyengat kala itu. Mereka sedang dikumpulkan pada sebuah penantian pertarungan ego dua mobil yang berhadapan.
Seorang Juru Parkir dengan rompi oranye lengkap beserta peluit yang terkalung di leher, melangkah keluar dari markas kecilnya. Kursi plastik tanpa sandaran yang terlindungi payung warna-warni, rela ia tinggalkan guna mengatasi bunyi klakson orang tidak sabaran yang memekakkan telinga. Pemuda tersebut meniup peluit dan menjalankan mekanisme pengaturan arus lalu lintas melalui tangannya yang belang hitam-putih. Harus ada mobil yang memberi jalan untuk mobil lainnya. Mengalah demi kelancaran bersama. Itu yang menjadi landasan pemikirannya guna menstabilkan situasi tersebut. Akhirnya, mobil satu mau meminggirkan badannya, diikuti oleh mobil dua yang melenggang maju agar arus kendaraan menjadi lancar. Sebelum melaju, kaca mobil satu terbuka turun dan di baliknya ada sepasang mata pengemudi melotot. Juru Parkir bergeming, sudah biasa kejadian seperti itu dialaminya.
Juru Parkir menghela napas panjang usai berhasil membuat jalan menjadi lebih lengang. Ia berkacak pinggang, melempar pandangan ke satu ujung jalan ke ujung lainnya. Kemudian, ia berbalik dan duduk kembali di singgasananya sembari ditemani buku novel bertebal lima ratus halaman. Sesosok Barista memecah konsentrasinya membaca buku. Ia muncul dari balik pintu masuk dan memanggil Juru Parkir dengan isyarat tangannya. Juru Parkir merespons panggilan itu dengan langkah kakinya. Tangan kirinya mencengkeram buku. Jari telunjuknya masuk sebagai penanda halaman yang tengah ia baca. Rambut kulit Juru Parkir tegak merinding seketika kala menemui perbedaan suhu yang amat drastis. Panas di luar, dingin di dalam.
"Kir, tolong jaga anak kecil itu, ya! Anaknya Bu Arka, yang punya kafe ini, aku mau ngeracik kopi dulu," ucap Barista itu sambil sibuk menarik tuas mesin kopi.
Aneh betul yang dikatakan Barista itu. Tampaknya Barista mengoper amanah yang seharusnya untuknya kepada orang lain dengan alasan kesibukan meracik kopi. Juru Parkir mengalihkan pandangan kepada anak kecil yang dimaksud. Tak ada sehelai rambut di kepalanya. Dot menancap mantap menggandeng bibirnya. Bajunya mungil dan berwarna kuning. Ia sedang duduk manis di kursi khusus anak-anak menatap tajam mata Juru Parkir. Juru Parkir mendekati perlahan anak kecil tersebut. Ia memasang wajah lucu nan kocak khas orang dewasa yang kerap berusaha menggoda bayi berusia sekain bulan. Menggoyangkan kepala ke kiri dan kanan sambil mengeluarkan lidah berharap mengundang tawa anak kecil yang berada di hadapannya.
Sayangnya, rencana tak semulus itu. Dot anak Bu Arka terlepas dan tangisnya meledak memenuhi seluruh penjuru kafe. Peristiwa itu menyedot perhatian pengunjung tak kasat mata sebab kondisi kafe masih sepi. Barista mencuri pandang dan kembali melanjutkan skenario peracikan kopi setelah matanya ditangkap basah oleh Juru Parkir yang rehat sejenak untuk mengatur strategi penenangan anak Bu Arka. Bohlam pijar imajiner muncul di atas kepala Juru Parkir. Ia meraih ponsel cerdasnya dari saku celana dan memainkan pelbagai lagu anak-anak. Sayang, upayanya sia-sia karena raungan anak Bu Arka makin melengking menggetarkan kaca kafe. Juru Parkir belum juga menyerah, ia menjajal trik sulap yang pernah ia pelajari di televisi dulu, yakni memisahkan ikatan jari di balik leher. Mungkin kau pernah melihat trik ini di kartun "SpongeBob Squarepants", kalau masih teringat. Bukannya terdiam, anak Bu Arka malah makin menjadi-jadi, mengamuk menggoyangkan kursinya.
Juru Parkir belum kehabisan akal. Ide muncul di kepalanya setelah ia memandang buku miliknya. Kebetulan, novel tersebut tak terlalu berat dan penuh gambar sebab bertutur soal petualangan anak-anak. Alhasil, ia duduk di samping bocah itu dan mulai membacakan narasi novel sambil sesekali memperlihatkan ilustrasinya. Anak Bu Arka sontak terdiam dan menyimak dengan khusyuk. Telinganya seakan sensitif terhadap suara yang keluar dari mulut Juru Parkir.
Suara mesin motor yang mendadak mati memotong bacaan Juru Parkir. Rupanya, ada pelanggan yang hendak menyesap kopi di kafe ini. Barista yang masih sibuk meracik kopi fiksinya, tiba-tiba saja berlagak memiliki waktu luang dengan menyambut hangat pelanggan itu. Aku mengabaikannya, toh hanya satu motor, bukan persoalan serius. Lahan parkir masih terbentang luas untuk motor lain.
Tak lama setelahnya, muncul rombongan motor yang menyerbu kopi. Pupil mata Barista membesar karena dalam imajinasinya, wajah mereka adalah calon uang yang akan bersemayam di mesin kasir. Bonus dari Bu Arka sudah menanti. Di sini Juru Parkir bimbang, antara meneruskan bacaannya atau mengatur kendaraan yang parkir di lahan parkir. Ia cemas dan berharap ada mukjizat yang terjadi di lahan parkir itu. Tangisan bocah tentu merupakan gangguan bagi pelanggan di kafe yang biasa dipakai untuk menggarap tugas dengan alunan musik jazz tenang.
Seorang juru parkir lain yang sudah beruban sekujur rambut kepala dan wajahnya, melintasi lahan parkir dan mengamati markas Juru Parkir yang kosong. Ia memandang sekitar seperti berusaha mencari kawan karibnya. Dari balik kaca, Juru Parkir membagi fokus kerjanya dengan memberi sedikit isyarat tangan untuk kawannya guna mengambil alih sejenak pekerjaannya. Kawan Juru Parkir tersebut masih tidak menyadari isyaratnya sehingga membutuhkan sedikit waktu. Akhirnya, mata mereka berdua bertemu dan lahan parkir pun diambil alih oleh Kawan Juru Parkir.
Bola peluit saling bertabrakan oleh tiupan udara Kawan Juru Parkir. Ada mobil sedan hitam yang hendak mampir di kafe. Ternyata penumpangnya adalah Bu Arka. Matanya langsung menyorot pada tiga objek. Pertama, anaknya. Kedua, Juru Parkir. Ketiga, Barista. Kemudian, Bu Arka tersenyum.



Posting Komentar