Dikontrakkan. Begitulah tulisan yang saya lihat di sebuah bangunan yang dulunya merupakan toko roti. Kini toko tersebut sudah tutup dan bagian depannya serempak ditutupi oleh rerumputan yang beranak pinak. Kemungkinan besar, alasan mendasar usaha yang gulung tikar tersebut bukan semata-mata kontrak telah habis, melainkan pandemi yang menghajar sektor ekonomi. Sunyi merupakan sesuatu yang tak diharapkan. Demikian lah perubahan terjadi.
Orang-orang sudah tak asing lagi dengan teknologi foto untuk mengabadikan momen. Mereka menyimpannya dalam bentuk format digital yang sebenarnya rentan jika perangkatnya rusak tanpa ada backup data sebelumnya atau bisa juga terkena virus. Format analog pun sebenarnya juga memiliki risiko sendiri, yakni bencana alam yang bisa melenyapkan memori-memori yang telah tertangkap itu. Bicara soal perubahan, sebagian dari kita mungkin masih menyimpan album-album foto kenangan masa kecil. Kala itu, tubuh kita masih berukuran mini dan kerap kali tertawa. Berbeda dengan kini yang sudah tumbuh dewasa dan mengerti arah tujuan hidup. Begitulah perubahan. Bergerak bersama waktu yang enggan berhenti.
Sewaktu melihat potret masa kecil, ada sebagian dari kita yang merindukan masa itu. Masa ketika anggota keluarga masih lengkap, kala teknologi belum mulai "mengontrol" manusia, dan zaman saat kita masih sibuk bermain tanpa beban. Suasana begitu kontras dengan keadaan saat ini. Banyak tuntutan hidup yang seakan tak berhenti menghampiri mesti dihadapi dengan tangguh. Kadang, ada pikiran liar tentang mesin waktu yang bisa mengembalikan kita menuju masa lampau. Namun itu sebatas imajinasi belaka yang akhirnya mengembalikan kita pada sebuah perenungan: waktu kecil ingin dewasa supaya bisa menjajal segala hal yang dilarang, sementara waktu dewasa ingin kecil kembali supaya beban kehidupan tak ditanggung seorang diri.
Juga sekolah yang telah tinggalkan karena berhasil lulus melewati kurikulum yang direncana oleh pemerintah. Guru-guru yang dulunya mengajar kita, kini telah merenta dan pensiun menikmati masa tuanya. Fasilitas-fasilitas sekolah makin bertambah mewah untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Wajah sekolah sudah amat berbeda jika membandingkan keadaan kini dan dahulu. Oleh karena itu, kerap ada selentingan dari kawan: sekolah itu kalau kita sudah lulus, pasti tambah bagus. Perubahan lagi-lagi memang tak terhindarkan.
Ada pula tempat-tempat yang kita kunjungi sebagai SPBU manusia, yaitu tempat-tempat makan yang berdiri di pinggir jalan. Beberapa dari mereka memang ada yang mempertahankan tradisi dengan cara tidak mengubah tempatnya sama sekali dan resep yang konsisten. Namun, karyawan-karyawan di sana pasti berganti, seperti halnya guru di sekolah. Satu per satu generasi mulai memegang tongkat estafet yang dioper oleh generasi sebelumnya untuk mengelola restoran bersangkutan. Di sisi lain, ada beberapa tempat makan yang giat untuk melakukan ragam inovasi dengan bereksperimen dengan menu baru juga berekspansi ke mana-mana.
Semua ini menunjukkan bahwa perubahan itu tak terelakkan dan selalu ada. Kita masih bisa berbincang di sini merupakan suatu bukti bahwa manusia mampu menjawab perubahan-perubahan dengan cara beradaptasi mengikuti perkembangan zaman. Meskipun begitu, tak merlu mencemaskan perubahan yang terjadi di masa lalu secara berlebihan. Sebab, itu hanya akan menyiksa diri. Lebih baik, lakukan apa yang bisa dilakukan di masa sekarang dengan kesadaran penuh. Pelan-pelan, tak perlu tergesa-gesa sebab waktu tak harus selalu dipandang memburu.



Posting Komentar