[Review] Semasa

Ketika saya mencari di internet apa buku yang ceritanya menghangatkan jiwa, beberapa pengguna internet merekomendasikan buku ini. Semasa cukup tipis karena tebalnya sekitar 149 halaman sehingga saya dapat menuntaskannya dalam kurun waktu sehari. Buku ini dikarang oleh dua penulis, yakni Teddy W. Kusuma dan Maesy Ang yang juga memiliki toko buku independen bernama POST yang terletak di Pasar Santa, Jakarta. Tak hanya menjajakan buku, POST juga menerbitkan beberapa buku, di antaranya Semasa ini yang diterbitkan oleh POST Press -- sebelumnya diterbitkan oleh Penerbit OAK.

Oke, langsung saja. Buku bersampul kuning ini memvisualisasikan dua ekor burung yang tengah bertengger di kabel listrik. Saya tertarik dengan buku ini karena Teddy dan Maesy memboyong cerita tentang arti keluarga dan kenangan yang melingkupinya. Topik yang diangkat oleh mereka sungguh dekat dengan kehidupan orang-orang yang pasti memiliki keluarga beserta kisah-kisah di masa lalu. Sachi dan Corro, sepasang sepupu dalam novela ini, dihadapkan pada problem bahwa Rumah Pandanwangi, tempat keluarga mereka dulu berkumpul menghabiskan waktu bersama, harus dilepaskan. 

Cerita dalam buku ini dibuka dengan perjalanan menuju Rumah Pandanwangi menggunakan mobil. Dalam perjalanan itu, Corro dan Sachi mengenang banyak hal yang pernah mereka lakukan melalui sejumlah obrolan, terutama ketika mereka berada di Rumah Pandanwangi yang begitu sakral atas kenangan masa kecil mereka. Cukup banyak scene-scene flashback yang dihadirkan di Semasa. Kisah di Semasa boleh dikatakan cenderung datar karena hanya berkutat pada keluarga yang bercekcok sebab berbeda pendapat beserta kenangan yang terpaut pada lingkungan Rumah Pandanwangi itu. Akan tetapi, ada unsur penceritaan yang menarik ketika Teddy dan Maessy sesekali menggunakan sudut pandang kedua dengan penggunanaan kau sehingga pembaca serasa diajak bicara. Saya cukup jarang mendapatkan sudut pandang ini. Selain itu, ada penggambaran suasana yang cukup unik, yakni suara lampu neon yang biasa menyala di malam hari. Hal itu sering saya jumpai di kehidupan nyata, tetapi saya tidak kepikiran bahwa suara itu ternyata bisa juga dijadikan sebagai unsur pembangun atmosfer adegan. Tak banyak yang bisa saya ulas dari novela ini karena kehangatan dan kesenduan tentang keluarga beserta kenangan yang ditawarkan dalam buku ini memang perlu dibaca, dirasakan, dan diresapi secara langsung tanpa perantara. Ini adalah buku tipis yang begitu melekat di hati.

Pelajaran:

1. Kenangan. Semua yang terjadi di masa lalu memang sudah terlampau jauh dari kita. Tak terjangkau oleh fisik, hanya bisa dinikmati oleh pikiran yang pernah merekamnya. Ketika kita dihadapkan dalam situasi untuk melepaskan kenangan, kita sering dibuat bimbang karena kuatnya tancapan kenangan di dalam kepala sehingga tak rela berrpisah dengannya. Akan tetapi, semua pada akhirnya memang harus dilepaskan. Kita tetap harus melangkah maju, tak terus menerus terikat dengan masa lalu yang telah tertinggal. Hidup harus terus berjalan.

2. Hal besar versus hal kecil. Terkadang, hal-hal yang sifatnya besar lebih menarik atensi kita sebagai manusia sehingga hal-hal kecil sering terlupakan. Hal ini digambarkan melalui tokoh Sachi yang peduli terhadap isu-isu sosial, tetapi ia tidak hadir dalam momen-momen krusial orang-orang terdekatnya.

"Jika ada nasihat Bapak yang masih kupegang, itu adalah betapa pada akhirnya, kita akan menghadapi segala sesuatunya sendiri. Dan saat itu tiba, kita mau apa lagi?" (Teddy W. Kusuma & Maessy Ang)

Posting Komentar