Lagi-lagi, saya mengetahui buku ini dari Twitter. Banyak pengguna Twitter yang mengatakan bahwa buku ini bagus, saya pun mencari lebih jauh dan menemukan video ulasan oleh Kanaya Sophia, seorang booktuber beken tanah air, yang memberi buku ini rating lima dari lima bintang. Saya pun tertarik untuk meminangnya, sayang stok di toko buku saat saya berkunjung sedang kosong. Jadilah saya membaca Second Sister garapan Chan Ho-Kei, penulis asal Hong Kong, di aplikasi Gramedia Digital.
Second Sister mengangkat premis menarik tentang perundungan dalam dunia digital yang berawal dari isu pelecahan seksual lantas bermuara pada keputusan bunuh diri sang korban, Siu-Man yang merupakan adik kandung Nga-Yee. Dibantu N, seorang peretas kompeten, Nga-Yee mencoba menelusuri kasus ini untuk membuatnya menjadi lebih jelas dan terang.
Buku bersampul nuansa merah hitam dengan tebal 632 halaman ini berhasil memikat mata saya untuk tetap menelusuri kata demi kata kisah dalam novel ini. Hal itu disebabkan gaya penceritaan Chan Ho-Kei yang sangat detail. Misalnya, kondisi ruangan, terlebih perasaan tokoh diceritakan dengan spesifik. Akan tetapi, cara mendetail ini bisa dibilang berisiko untuk menimbulkan kebosanan bagi pembacanya. Namun, Chan Ho-Kei memiliki siasat untuk mengantisipasinya dengan cara mengembangkan gaya bercerita yang mengasyikkan sehingga alur cerita tetap mengalir dan membuat penasaran dengan pilihan kata-kata yang menarik.
Tema besar yang diangkat dalam novel ini adalah dunia digital. Chan Ho-Kei cukup piawai dalam menyampaikan istilah-istilah asing seputar perkomputeran. Ia menerangkannya dengan bahasa yang mudah dipahami, tak jarang pula ia mengeluarkan jurus analogi supaya pembacanya mudah mencerna kosa kata yang terasa asing bagi mereka yang awam. Tema pendukung lain yang juga berperan penting adalah pelecehan seksual dan perundungan. Oleh karena itu, novel ini sarat dengan isu-isu sosial yang coba dikemukakan oleh penulis sebagai suatu kritik sosial. Selain itu, bisa dibilang, ia cukup berhasil dalam memadukan keseluruhan isu sosial menjadi satu kesatuan alur yang solid karena saling berkaitan dan tak terasa terlalu dipaksakan. Terlebih lagi, ia juga menyisipkan wawasan berkaitan dengan manusia dan perilakunya tentang tingkat kewaspadaan manusia yang mengendur dalam situasi tertentu, rekayasa sosial, dan sebagainya.
Penulis juga piawai dalam meramu plot. Dua alur yang tampak berbeda diramu sedekemian rupa untuk mencapai sebuah konklusi yang memberi daya kejut bagi pembacanya. Plot yang disusun oleh Chan Ho-Kei menurut saya cukup cerdas dan jenius, saya sering berhenti membaca sejenak karena terkagum betapa ajaibnya racikan tangan dinginnya. Salah satu bagian yang menarik adalah ketika Chan Ho-Kei menjelaskan sebuah peristiwa dengan dua sudut pandang yang berbeda. Alih-alih membosankan karena ada pengulangan cerita, dua perspektif itu malah memberi kesempatan kepada pembaca untuk menyelami lebih dalam hal-hal yang dipikirkan dan dirasakan setiap tokoh sehingga cerita menjadi lebih terjiwai. Menjelang epilog, novel ini seakan kehilangan tenaga untuk tetap mendetakkan laju kisah yang dibangunnya sejak awal karena tuturan yang terlalu bertele-tele. Terlepas dari itu, buku ini menyajikan kisah yang sangat spektakuler dengan gaya penceritaan apik.
Pelajaran:
1. Dua sisi internet. Kemajuan teknologi yang dialami manusia sebenarnya membawa dua konsekuensi. Internet membuat manusia menjadi serba instan tanpa perlu usaha lebih untuk berselancar ke satu tempat ke tempat lainnya dalam dunia maya. Namun, internet juga memiliki sisi gelap terkait data yang rentan diretas. Selain itu, anonimitas akun di internet membuat orang-orang lebih suka berbicara tanpa berpikir dibandingkan mendengarkan sesamanya. Hal ini sering terjadi, terutama di masyarakat kita yang bersifat reaktif dalam menanggapi suatu fenomena dan cenderung menghakimi secara sepihak. Oleh karena itu, literasi digital perlu digalakkan beserta penggunaan internet secara bijak.
2. Memaafkan atau balas dendam? Kadang, balas dendam bukanlah jadi satu-satunya solusi untuk menyelesaikan masalah. Balas dendam bisa jadi justru membawa pada lingkaran setan tak henti-henti. Opsi memaafkan bisa menjadi pilihan, walaupun memang berat untuk dilakukan.
3. Peka dengan lingkungan sosial. Bukan hanya kita seorang yang hidup dalam bumi ini. Sering-seringlah memerhatikan lingkungan sekitar. Apakah ada yang tak beres? Jika ada teman yang tiba-tiba menyendiri, berilah perhatian, dan ajaklah bicara. Sekadar menanyakan: kamu kenapa? sini kalau ada apa-apa cerita, merupakan sederet kalimat yang patut diacungi jempol.
4. Keluarga. Keluarga ternyata lebih penting daripada kesibukan bekerja untuk memeroleh uang. Kesibukan itu kerap melalaikan kita terhadap anggota keluarga yang semestinya diberi perhatian. Nga-Yee baru menyadari bahwa ia tak begitu mengenal Siu-Man, adiknya, karena ia terlalu sibuk bekerja. Untuk mereka yang merantau dan jauh dari sanak famili, luangkan setidaknya sedikit waktu untuk sekadar berbincang bertukar kabar.
"Manusia itu makhluk aneh, Miss Au. Begitu kau bisa membuat mereka menurukan kewaspadaan, mereka akan mengatakan lebih banyak hal kepada orang asing dibandingkan kepada keluarga mereka sendiri." (Chan Ho-Kei)

.png)

Posting Komentar