Saya mengetahui buku ini dari Twitter. Sebelumnya, saya sudah mengetahui pengarang The Midnight Library melalui karya lainnya berjudul Reasons to Stay Alive yang mengusung tema kesehatan mental. The Midnight Library sebetulnya juga mengusung tema serupa, namun diselimuti dengan bumbu fiksi ilmiah, teori multiverse. Sebagai informasi pelengkap, buku ini berhasil memenangkan penghargaan Goodreads Choice Awards 2020 Best Fiction setelah menang tipis dari Anxious People gubahan Fredrik Bauman berdasar pada jumlah voting pengguna Goodreads.
Sudah berbulan-bulan saya menunggu terjemahan The Midnight Library. Senang sekali rasanya saat mengetahui kabar bahwa Gramedia Pustaka Utama akan menerjemahkannya ke bahasa Indonesia menjadi Perpustakaan Tengah Malam. Blurb yang dibawakan cukup menarik dan amat dekat dengan kehidupan. Saya juga pernah berpikir sekelebat mengenai blurbnya. Bagaimana jadinya kalau kita menjajal kehidupan selain yang kita jalani saat ini? Membayangkan seandainya dulu aku begini dan aku begitu? Akankah kehidupan alternatif tersebut cocok untuk kita sehingga menghadirkan kebahagiaan di hati untuk menjalaninya? Nora Seed, tokoh utama dalam novel ini sudah putus asa terhadap pelbagai kemalangan yang menghujamnya, seperti dipecat dari toko tempat ia bekerja, gagal menikah, hingga binatang peliharaannya yang mati. Ia pun memutuskan untuk mati, tetapi perpustakaan tengah malam menjebaknya. Di situlah titik antara kehidupan dan kematian. Nora pun diberi kesempatan untuk mencicipi kehidupan alternatifnya yang memiliki jutaan bahkan triliunan kemungkinan tak berhingga.
Salah satu unsur utama cerita The Midnight Library terletak pada ragam kemungkinan yang dijajal oleh Nora. Pada bagian petualangan ini, pembaca diajak berkelana menyelami kehidupan alternatif Nora. Tentu ini adalah sebuah hal yang seru karena latar yang dihadirkan berbeda-beda sehingga penulis bak mengajak pembaca bertamasya antartempat antarwaktu. Akan tetapi, petualangan ini terasa repetitif karena dihidangkan dengan pola yang sama. Apalagi, ada bagian ketika Matt Haig terlalu banyak mencurahkan daftar kehidupan Nora dengan singkat sehingga terasa kurang berfaedah. Akan tetapi, boleh jadi ini adalah cara Matt Haig untuk menegaskan sebanyak apa kehidupan yang Nora coba dengan memangkas waktu baca.
Hal yang tak kalah menarik adalah penyajian nasihat-nasihat seputar kehidupan yang disampaikan secara tersurat melalui dialog yang dibangun antartokoh dan narasi yang dibawa penulis. Apabila telah membaca secara keseluruhan, saya yakin pembaca akan bisa memperoleh pelajaran yang tersirat dengan menyeluruh. Semua itu dibalut dengan penjelasan konsep ilmu fisika (untuk latar perpustakaan tengah malam) yang mudah dicerna dan ide filsafat yang agak sedikit saya kurang bisa pahami.
Saya tergelak kala tiba di bagian Nora yang sedang melakukan tanya jawab singkat cepat dengan seorang anak kecil. Menurut saya, cara yang dipilih Nora cukup lucu dan kreatif dalam konteks adegan itu. Sayangnya, bab terakhir novel ini bisa dibilang agak kurang nendang, meski didahului oleh bab reflektif tentang perjalanan Nora. Oh iya, buku ini juga lumayan page turner karena ada sejumlah bab yang mengandung sedikit halaman sehingga memacu saya pribadi untuk membaca lagi dan lagi. Overall, buku ini mengajarkan arti syukur dalam hidup. Cocok dibaca untuk mereka yang cukup umur (17+ sesuai rating buku), terutama manusia yang sering berandai-andai tentang kehidupan alternatif yang berbanding terbalik dengan kehidupan akarnya.
Pelajaran:
1. Bersyukur. Tak perlu berimajinasi untuk mengubah masa lalu karena itu sudah jauh tertinggal di belakang. Roda kehidupan takkan pernah berhenti selama dalam kehendak-Nya. Kesedihan dan kebahagiaan merupakan komponen yang saling melengkapi dalam kehidupan supaya hidup memang benar-benar hidup. Mencoba mencari yang lain, mengetahui alternatif lain, dengan mengabaikan apa yang kita punya sekarang justru membuat lupa diri, tersesat hilang arah, dan tak tahu arah tujuan karena terus-terusan mencari sampai tak berhingga. Garis hidup yang diberi Allah sudah yang paling baik untuk kita. Kehidupan terbaik adalah kehidupan yang saat ini tengah kita jalani.
2. Mimpiku, bukan mimpi mereka. Hidup sepenuhnya memang milik kita. Kontrol penuh ada di tangan diri sendiri. Hidup ini berisi mimpi-mimpi yang perlu digapai. Berusaha menggapai mimpi orang lain hanya akan menebar bom waktu kesengsaraa yang akan meledak di kemudian hari. Lakukan apa yang benar-benar menjadi mimpi kita dan raihlah dengan penuh kegembiraan membara!
3. Hiduplah! Selagi napas masih berembus, jalani hidup dengan sepenuh hati untuk saat ini. Be present. Tak usah pikirkan kemarin, apalagi mencemaskan waktu yang akan datang. Upayakan segala sesuatu yang memang baik bagi diri demi masa depan yang cemerlang. Maksimalkan segala potensi di masa kini karena masa depan masih menyimpan sejuta misteri untuk kita pecahkan.
"Kita hanya perlu menjadi satu orang. Kita hanya perlu merasakan satu eksistensi. Kita tidak perlu melakukan segalanya dalam rangka menjadi segalanya, karena kita sendiri sudah tak terbatas. Selagi kita masih hidup, kita selalu memiliki masa depan dengan beribu kemungkinan." (Matt Haig)



Posting Komentar