Hujan dan Cerita di Sekitarnya

Hujan selalu turun dengan caranya sendiri. Kadang ia memberi pertanda semacam awan hitam kelam disertai kilatan cahaya dan terkadang ledakan guntur yang mengejutkan. Di sembarang masa lainnya, hujan terjun tanpa permisi secara tiba-tiba di cuaca yang sangat terik. Mereka berkolaborasi dengan mentari yang sedang getol memamerkan sinarnya. Dari intensitasnya juga bisa dilakukan klasifikasi, ada yang gerimis, sedang-sedang saja, bahkan deras tak terkira. Ketika intensitasnya melewati ambang batas toleransi, beberapa orang harap-harap cemas karena bisa terjadi bencana tak terduga, seperti banjir atau genting yang bocor. Meskipun begitu, di sisi lain, hujan juga memberi nuansa unik tersendiri bagi mereka yang memahaminya. Bahkan, ada sebutan bagi orang-orang pencinta hujan berikut dengan aroma tanah yang ditimbulkan seusai hujan reda.

Ketika hujan turun di jalanan, mereka yang berada di mobil mungkin boleh tenang-tenang saja karena terlindungi atap. Namun, orang-orang yang berkendara di atas jok motor harus menepi sejenak untuk berteduh. Beberapa pedagang kios mungkin agak terkejut karena tiba-tiba saja dagangannya laris, tapi ternyata itu hanya sampul saja karena orang-orang hanya numpang berteduh dan menyiapkan jas hujan. Selain itu, hujan juga membuat orang-orang berhitung matematis. Pasalnya, ada kalanya hujan itu datangnya tiba-tiba dan hanya bertahan semenit dua menit saja. Kasihan bagi mereka yang sigap cepat tanggap mengenakan jas hujan yang akhirnya hanya basah barang setetes dua tetes. Beberapa dari mereka akan merasa malu karena terpaksa menjemur jas hujan ketika berkendara, walaupun itu bukan persoalan yang besar sebenarnya, haha. Kasus serupa juga dihadapkan pada kondisi ketika tujuan tinggal beberapa meter, tetapi hujan menderas tiada hentinya. Baju yang basah -- apalagi sepatu yang baru dibeli dari toko -- sering menjadi pertaruhan pada momen ini. Nanggung, bahasa gampangnya. Persoalan makin bertambah seputar genangan air yang ditimbulkan hujan. Ban berkecepatan tinggi yang menggilas genangan ini, praktis akan menimbulkan percikan besar pada ruang di sekitarnya. Makin menjadi polemik ketika genangan ini bertransformasi menjadi danau kilat. Kendaraan bermotor menjadi rawan mogok dan mau tak mau harus didorong jika itu terjadi.

Hujan sering dikaitkan pula dengan kisah-kisah sendu -- apalagi hujan di pagi hari yang memberi kesan sendu sepanjang hari-- serta lagu-lagu tenang nan puitis. Misalnya, berada di kafe di malam Minggu. Seorang diri bersama kopi hangat yang dipesan ditemani penyejuk udara dingin beserta rintik hujan yang melintas turun di kaca kafe. Sungguh, penggambaran suasana yang kerap ditemukan di berbagai cerita-cerita fiksi. Oh iya, soal butiran hujan yang perlahan turun di kaca itu sungguh sangat indah dipandang menurut saya. Pernah saya lihat ada kafe yang sengaja memasang kaca yang terbasahkan oleh air terus menerus seolah memberi kesan hujan di luar. Keren sekali. Selain itu, nuansa sendu dan tenang dari hujan kerap dipakai orang-orang sebagai sarana relaksasi pengantar tidur. Mungkin mereka yang gundah dan gelisah akan menyetel suara hujan untuk mendapatkan rasa ketenangan, terutama di malam hari yang di dalam kepalanya berjejal banyak pikiran. Hawa dingin juga dibawa oleh hujan karena airnya ya memang dingin sifatnya. Pasti ada beberapa dari kita yang memiliki masa kecil hujan-hujanan di luar atau bermain sepak bola hingga terpleset. Sungguh masa-masa indah yang tak terlupakan.

Waktu hujan telah usai menunaikan tugasnya. Sering hadir rasa sedih. Mengapa mereka begitu cepat berlalu? Nuansa syahdu yang dibawa tiba-tiba hilang begitu saja. Tetapi, sebenarnya nuansa itu tak benar-benar hilang jika kita sedang berada di luar. Jalanan basah yang memantulkan sinar lampu di jalanan menjadi pemandangan yang cukup indah dinikmati. Para manusia yang mulai bebas beraktivitas kembali setelah dikurung oleh hujan. Juga bau tanah yang sempat saya sebutkan di awal paragraf tulisan ini. Begitulah hujan, selalu datang dan pergi melalui caranya sendiri dengan meninggalkan jejak yang cukup berarti.

Posting Komentar