Berlari ke Toko Buku

Membicarakan buku itu seakan tak ada habisnya. Penulis terkenal dengan aneka koleksi penghargaannya, aroma kertas buku yang baru saja berpisah dengan plastik pembungkus, pinjam meminjam buku antarkawan, suasana toko buku yang asyik, sunyi perpustakaan sepaket dengan penjaganya yang terkadang kurang bersahabat, acara bedah buku plus tanda tangan basah dari sang pengarang, alat tulis yang terkadang kerap menjadi komoditas bersama, dan masih banyak lagi.

Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas dunia perbukuan terkhususnya toko buku. Sebelum beralih ke inti pembicaraan, saya mengingatkan pada pembaca bahwa ini adalah pengalaman saya berkelana ke tiga toko buku besar. Saya tak menyebutkan secara spesifik cabang tertentu untuk alasan privasi. Boleh jadi, setiap cabang memiliki fasilitas dan pelayanan yang berbeda-beda. Oke, langsung ke intinya saja. Sebelum tahun 2010, saya diberi jatah uang bulanan oleh orang tua saya untuk membeli buku pengetahuan di toko buku. Diajaklah saya ke toko buku, waktu itu toko bukunya bernama Social Agency. Entah mengapa, Social Agency makin hari makin terasa makin sepi saja. Padahal, mereka masih menawarkan koleksi buku agama Islam yang terbilang cukup lengkap beserta diskon 20% yang selalu konsisten. Zaman dahulu, dengan bujet yang ditawarkan oleh orang tua saya, tiga hingga empat buku bisa dibawa pulang untuk diserap ilmunya. Berbeda dengan sekarang yang isi plastik belanjannya makin ringan. Mungkin, hal ini disebabkan oleh ongkos penerbitan buku yang makin melonjak. 

Di Social Agency saya biasa membeli buku-buku pengetahuan, tak jarang juga saya membawa pulang buku-buku cerita tipis atau novel anak. Waktu itu, buku cerita yang menarik perhatian saya adalah buku berjudul Pembunuh Bertopeng karena dibandrol dengan harga yang cukup mahal dan memang memiliki ketebalan yang lebih dibandingkan novel anak lainnya. Untuk buku pengetahuan sendiri, saya lebih banyak mengoleksi buku yang berkaitan dengan tubuh manusia karena saya tertarik dengan sains, utamanya biologi tentang manusia. Buku pengetahuan yang saya miliki agak berbeda dengan teman seumuran saya lainnya karena kebanyakan mereka mengoleksi serial Why?, yakni buku pengetahuan penuh warna yang dikemas dalam bentuk komik secara asyik dan seru. Sayangnya, harganya cukup mahal. Akan tetapi, secara keseluruhan buku-buku yang dijual Social Agency relatif murah dibandingkan toko buku lainnya.

Ketika saya tumbuh dewasa, saya sudah dapat mengunjungi toko buku sendiri. Apalagi, lokasi sekolah menengah saya berada tak jauh dari jaringan toko buku terbesar di Indonesia, yaitu Gramedia. Jika ada waktu luang, saya bersama teman-teman saya bertandang ke toko buku itu. Yah, walaupun tak selalu membeli tiap kunjungannya, setidaknya tubuh ini terpapar pendingin udara guna menghalau keringat. Pernah juga suatu waktu teman saya diusir petugas keamanan karena membaca buku tester -- yang sudah dibuka sampulnya -- sambil nyantai berselonjor di lantai. Mungkin bagi pihak toko buku, aktivitas selonjoran mengganggu pengunjung lain. Saya juga pernah mengalami hal yang pasti sering dialami orang-orang di toko buku, yakni menyenggol buku secara tidak sengaja. Sungguh terkadang itu merupakan hal memalukan karena suaranya yang menyedot perhatian orang banyak. Gramedia ini menurut saya memiliki atmosfer yang hingga kini menempel di bagian memori kepala saya. Bagaimana tidak, pendingin ruangan yang sejuk ditambah lagi penataan buku yang lumayan rapi memanjakan visual mata, alunan nada musik populer, terutama bunyi musik saksofonnya yang kata banyak orang meningkatkan hasrat ingin buang air, serta pencahayaan kuning hangat yang syahdu. Sayangnya, diskon yang ada di Gramedia sangat periodik. Perlu kecermatan untuk mengikuti informasi terkait promosi yang diadakan Gramedia. 

Dari Gramedia, saya berkenalan dengan buku Diary of Wimpy Kid yang berhenti di seri keenam terjemahan bahasa Indonesianya. Kemudian, saya juga mulai mengerti siapa itu Tere Liye lewat Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, serta serial Bumi dengan sampul lamanya. Bumi dan Bulan sangat ramai waktu awal kemunculannya, bahkan hingga kini makin ramai saja dengan khas sampul warna warninya. Waktu awal kemunculan Bumi, saya sering mendapati orang-orang membaca Bumi di bus kota. Ternyata, kisahnya lumayan seru sebab tak banyak penulis yang menelurkan karya dengan genre serupa. Akan tetapi, saya sendiri jadi malas mengikuti universe ini karena sudah tertinggal amat jauh. Oh iya, dulu kalau tidak salah, saya pernah menjumpai strategi promosi yang unik dalam peluncuran salah satu buku serial Supernova karya Dewi Lestari. Kala itu, ada sosok berpakaian serba hitam yang saya kira patung, ternyata itu adalah orang sungguhan karena bisa bergerak secara fleksibel.

Togamas. Toko buku ini yang paling sering saya kunjungi sebab ada diskon tipis-tipis dan berlokasi paling dekat dari rumah. Buku-buku best seller dan sedang naik daun tak ditata di rak, tetapi digelar menghadap ke atas seperti pada pameran buku. Sementara itu, buku-buku yang relatif lama ditata di rak. Pernah dulu, Togamas mengadakan diskon heboh sebesar 30% dan berimplikasi pada padatnya jumlah pengunjung, waktu itu belum ada pandemi Covid-19. Syukurlah, saya kebagian promo itu dengan membeli buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring. Wah, buku ini sangat terkenal, bahkan dalam waktu sekian tahun sudah naik cetak berkali-kali dan sering dibicarakan di forum-forum perbukuan daring.

Sejauh ini di tempat saya tinggal, mungkin hanya tiga toko buku itu saja yang membekas di hati saya. Rumah Berdikari sebenarnya juga asyik karena menawarkan semacam perpustakaan dan tempat duduk santai, tetapi saya kurang bisa menikmatinya karena alasan pandemi. Di sana saya membeli buku Semasa yang sudah saya ulas di postingan sebelumnya. Akhir kata, semoga ada toko buku-toko buku unik dengan terobosan anyar yang akan berdiri selanjutnya. Walaupun kehadiran buku elektronik seakan mengancam toko buku konvensional, buku kertas dan aromanya masih memikat hati saya sampai saat ini. 

Posting Komentar