Buku versi unedited ini saya baca dalam format buku elektronik karena waktu itu sedang ada promo Hari Kemerdekaan di Google Play Books. Sebenarnya membaca buku secara digital sangat praktis karena bisa dibaca di mana saja dan kapan saja. Akan tetapi, masalah keperihan mata menjadi sesuatu yang cukup serius buat saya. Google Play Books saya buka sebentar-sebentar karena mata saya kerap tak sanggup bertahan memindai paragraf demi paragraf novel kuning ini -- dalam edisi cetaknya.
J.S. Khairen mengisahkan kehidupan sekelompok mahasiswa (Ogi, Ranjau, Gala, Arko, Sania, Juwisa, dan Catherine) yang kuliah di universitas tak terlalu terkenal. Hal yang saya suka dari novel ini adalah kepiawaian penulis dalam meramu kata-kata. Mayoritas kata yang ditulis oleh penulis cukup sederhana dan terkadang memancing gelak tawa dengan humor-humor khas, seperti momen salah satu tokoh yang ngeles kebanyakan alasan. Ditambah lagi, penulis selalu menyisipkan kutipan pada setiap akhir bab laiknya merangkum keseluruhan bab yang telah dibaca secara padat serta puitis. Kutipan-kutipan itu berkaitan dengan kehidupan, utamanya pendidikan bangku perkuliahan.
Tak hanya itu, setiap tokoh mendapatkan porsi latar belakangnya masing-masing. Jadi, penulis menceritakan kesulitan yang dialami oleh setiap tokoh yang menjadikan tokoh buatan penulis ini menjadi lebih berkesan di benak saya. Hingga tulisan ini diterbitkan, apabila disebut sebuah nama, saya masih terkenang dan bisa membayangkan atmosfer yang dibawa oleh tokoh bersangkutan. Terlepas dari itu, di beberapa bagian saya merasakan kebosanan karena ada kisah-kisah latar belakang yang diceritakan agak terlalu lama sehingga saya menjadi malas mengikutinya dan ingin cepat beranjak ke kisah lainnya.
Buku ini sangat menggugah perasaan, saya pun sempat beberapa detik dibuat terharu olehnya. Setelah membaca buku ini, saya mendapatkan banyak pelajaran dan menjadi sedikit termotivasi, apalagi saya juga sedang berada di bangku kuliah sehingga cukup relate. Ada banyak filosofi alam yang unik disisipkan di novel ini, seperti tikus, anjing, kecoa, dan ubur-ubur. Jadi, buku ini sangat layak dibaca terutama bagi mereka yang sedang menempuh bangku perkuliahan untuk sekadar meninjau dan mencicipi apa yang akan dihadapi mereka selanjutnya. Dosen juga boleh sepertinya.
Pelajaran:
1. Ogi. Kemampuannya untuk bangkit di berbagai keterpurukan yang menerpanya. Walaupun ia sempat putus asa, ia lantas aktif mencari kesempatan dan optimis mengejar mimpinya sehingga semesta pun mendukungnya. Orang yang sukses tak harus memiliki masa lalu yang mulus. Masa lalu yang terjal justru menjadi tempat menempa diri guna menjadi pribadi yang tangguh demi kehidupan yang lebih baik.
2. Ranjau. Terlalu mementingkan akademik mengakibatkan ia hilang arah. Walaupun lulus lebih cepat dibandingkan teman-temannya, hati terasa hampa karena pekerjaan belum juga ia dapatkan. Alam menghadirkan kesempatan untuknya lewat pengalaman masa lampau yang tak disangka olehnya. Jadi, keseimbangan urusan akademik dengan urusan di luar akademik nyata diperlukan agar tak semata-mata hanya menjadi sarjana kertas, formalitas belaka.
3. Arko. Berani merantau keluar dari daerah tempat tinggalnya karena keajaiban takkan pernah terjadi di zona nyaman (Rhenald Kasali). Percaya diri dengan passion yang ia tekuni, yakni fotografi.
4. Gala. Mahasiswa yang serba berkecukupan, tetapi merasakan kekosongan di hidupnya. Perseteruannya dengan orang tua yang membesarkannya berangkat dari ketidaksukaan terhadap kekangan orang tuanya. Hingga akhirnya ia bisa berdamai dengan orang tuanya dengan cara saling berkomunikasi dengan baik. Saling mengerti intinya dan mengajarkan arti syukur. Setiap orang punya masalahnya masing-masing, bahkan orang berada sekali pun yang terlihat hidup nyaman.
5. Juwisa. Problematika mendasar pendidikan, yakni permasalahan keuangan. Solusi yang ditawarkan oleh ayahnya adalah perjodohan. Akan tetapi, pendidikan tetap harus dikejar, walau masalahnya keuangan sekali pun, pasti selalu ada jalan bagi mereka yang mau berusaha. Selain itu, perempuan juga berhak untuk sekolah tinggi, tak selalu harus menjadi ibu rumah tangga yang mengurus sumur, dapur, dan kasur.
6. Sania. Kejatuhannya dalam hidup membawanya pada sebuah perenungan hidup. Semasa di penjara yang terkesan negatif, ia malah menulis banyak lagu. Ia menemukan hikmah di balik suramnya hidup. Kisahnya juga menunjukkan arti kesetiaan sahabat karena teman-temannya datang menjenguknya.
7. Bu Lira. Cara mendidik yang unik dan asyik serta mampu mengambil filosofi atau hikmah tentang ilmu yang digelutinya. Ia juga sosok dosen yang bersahabat dengan mahasiswa. Sudah seharusnya dosen dan mahasiswa membangun kedekatan agar tercipta ruang diskusi keilmuan yang keren.
8. Kritik pendidikan. Paksaan untuk membeli buku cetak dengan harga seenak jidat, uang pelicin segala urusan, isu komdis, dosen yang mengajar ala kadarnya, dan banyak lagi.
"Tiap orang punya kuota untuk gagal. Santailah, jangan tegang dan takut kalau melakukan kesalahan. Orang-orang yang engkau kira keren, hebat, inspiratif, semua pernah gagal lebih banyak daripada jumlah ketakutan yang ada dalam pikiranmu." (J.S. Khairen)

.png)

Posting Komentar