Kaki Tedi terus menggambar lingkaran di udara dengan pedal yang menggerak sepasang roda. Wajahnya basah oleh keringat berliter-liter tak terkira. Ia membelokkan sepeda ke arah sekolahnya dan bergegas memasang standar demi tegaknya kendaraan rutinnya itu. Sebelum meninggalkan barang kesayangannya sendirian, Tedi memeriksanya supaya sudutnya miring. Sebab, standarnya sering error terlalu tegak yang membuat si sepeda hilang keseimbangan.
Ia setengah berlari menghampiri tiga guru yang pasang badan di pintu masuk guna melakukan ritual salam pada siswa siswinya. Tedi mengelap keringat di pipinya sebelum menyentuh tangan kanan guru pertama."Eh, kok basah, Nak?" ucap guru pertama terkejut yang hanya disambut cengiran Tedi. Guru kedua tak begitu peduli. Sementara guru ketiga mendapatkan panggilan telepon mendadak yang mengharuskannya menepi sejenak.
Tedi berjalan menuju kelas dan terciumlah bau bakteri akibat kelembapan badannya yang berkeringat. Ia meraih parfum manis dari tasnya, lantas menyemprotkannya ke seluruh badan secara masif. Gerakan tangannya lihai memutar-mutar untuk menyebar cairan pewangi dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sudah seperti mandi cairan parfum saja Tedi ini.
"Jangan banyak-banyak! Nanti dikira penjual parfum lho kamu, Ted," ucap kawannya melewati Tedi. Ekspresi Tedi pura-pura sebal.
Sebelum masuk kelas, bendahara kelas sudah memasang wajah tegas bak penjaga keamanan. Dua tangannya memegang buku tebal berisi angka-angka lengkap dengan daftar nama.
"Tedi! Kamu belum bayar uang kas sejak tiga bulan lalu! Sekarang bayar, woi!" ujar Bambang, sang kolektor uang.
"Aduh, Bang. Aku lupa banget ini, beneran lupa, tadi keburu banget berangkat sekolahnya, besok kubayar, deh," ucap Tedi sambil menerobos pintu kelas. Bambang menghela napas seakan itu merupakan hal biasa. Lupa adalah salah satu ciri khas dan kebiasaan Tedi.
Tedi menaruh tasnya dan memandang kawan-kawannya yang sibuk bekerja. Mereka tampak saling menyalin tulisan dari sebuah buku sang juara kelas.
"Pada ngerjain apa e?" tanya Tedi santai.
"Loh, kamu lupa? Kan ada PR Bahasa Indonesia ini, buruan kerjain, jam pertama lho!" kawannya itu melanjutkan lagi metode penyalinan jawaban setelah merespons pertanyaan Tedi. Tedi refleks menepuk jidat karena baru teringat. Sepertinya tak akan cukup buatnya untuk mengerjakan PR, bahkan menyalin pun apalagi karena Pak Har lima menit lagi akan tiba di kelas.
"Silakan keluarkan PR kalian, biar saya nilai," ujar Pak Har tegas. Beliau pun berkeliling menghampiri satu per satu muridnya. Tedi yang pasrah sekarang hanya bisa berpikir untuk memilih satu alasan yang pas dari sekian jutaan kemungkinan di benaknya sebelum Pak Har menanyai pekerjaan rumahnya.
"Mana PR kamu, Ted?" selidik Pak Har. Pertanyaan itu hanya dijawab anu eh ani eh unu saja oleh Tedi dengan garukan kepalanya yang sebenarnya tidak gatal karena kutu. Sepertinya ia gagal memutuskan alasan untuk ia sodorkan. Pak Har diam dan melewatinya begitu saja seperti sudah melihat fenomena ini berkali-kali. Tedi lega, tetapi sebenarnya harap-harap cemas karena pasti nilai nol akan tergores di laporan nilainya.
Pelajaran Bahasa Indonesia usai. Tedi bergegas ke kantin bersama rombongan teman kelasnya. Setiap jam istirahat, Tedi dan kawan-kawan selalu mengonsumsi es teh merek Segar yang memang betulan segar. Lumayan, kerongkongan yang kering kembali basah teraliri kesejukan air teh.
"Ted, nih kukasih nasi jamur, lumayan buat ngganjel ususmu," satu teman menghampirinya yang sedang asyik menyedot es teh Segar. Tedi kaget dan bertanya alasan temannya memberinya nasi jamur.
"Kemarin kan kamu udah mbantuin aku, masak gak inget sih?" Wajah Tedi yang bingung berubah menjadi anggukan dengan frekuensi yang semakin meningkat. Ia menerima pemberian kawannya dan memakannya dengan lahap. Beberapa menit setelahnya, bel istirahat berbunyi. Tedi bersama teman-temannya berjalan pulang menuju kelas.
Sebelum pelajaran Bahasa Inggris dimulai, seorang perempuan yang juga teman Tedi menghampiri bangkunya. Perempuan tersebut meminta maaf karena telah memecahkan botol minum Tedi dan berniat menggantinya.
"Kapan kamu memecahkannya? Botol minum yang mana?" Tedi malah kebingungan dan berusaha mengingat-ingat kejadian itu, padahal baru kemarin saja terjadi. Tedi mengernyitkan dahi melihat botol minumnya yang sedang duduk anteng di mejanya, dia baik-baik saja. Sementara itu, perempuan tadi berusaha memberikan penjelasan detail dan spesifik untuk memanggil memori Tedi yang sering hilang.
"Tak usah diganti, aku tidak ingat, santai saja," begitulah akhir dialog antara Tedi dan kawan perempuannya. Guru Bahasa Inggris pun masuk kelas. Kelas yang riuh mendadak sunyi. Hanya suara guru Bahasa Inggris dan aroma pengharum kelas tiap lima belas menit sekali yang menjadi penyusun atmosfer kelas. Esok, serangkaian kejadian yang dialami Tedi tentang sifat lupanya akan terulang kembali bak siklus. Kepala Tedi sepertinya memang belum di-upgrade. Memori penyimpanannya hanya muat untuk ingatan-ingatan esensial dalam hidupnya sehingga notifikasi memori penuh sering muncul diam-diam dalam benaknya. Sayangnya, ia memilih untuk tak menghiraukannya.

.png)

Posting Komentar