Beberapa hari yang lalu, saya menemukan sebuah toples berukuran sedang yang berisikan aneka kertas dengan warna dominan putih. Kertas berjumlah banyak itu tertidur saling berimpitan karena harus berbagi ruang satu sama lain. Ketika saya membuka tutup toples, tangan dan mata saya bekerja sama untuk menyelidiki identitas kertas-kertas yang sudah berumur itu. Nota pembelian barang, struk restoran, karcis bioskop, dan tiket wisata beserta tanda parkirnya. Lalu, pikiran saya tiba-tiba melesat berbalik ke masa lampau. Kumpulan kertas itu mengingatkan saya pada momen-momen dahulu yang pernah saya lakukan, terutama kala pandemi belum terjadi.
Nota pembelian barang didominasi oleh tanda buku-buku teradopsi yang akhirnya mengantarkan saya pada memori suasana toko buku, seperti gelap terangnya lampu dan ramainya pengunjung. Struk restoran pun juga memutar memori yang serupa dalam kepala saya, terutama soal cita rasa makanannya beserta kawan mejanya -- walaupun saya tak ingat persis seperti apa pembicaraan hangat yang berlangsung. Ketika melihat sekelebat satu karcis bioskop yang mencantumkan judul film, saya langsung teringat dengan posisi tempat duduk saya, kisah filmnya, terutama aroma popcorn beserta terpaan cahaya kuning hangat yang sudah menjadi ciri khas bioskop. Begitu pula dengan tiket wisata, nampaknya saya tak perlu menjelaskan lebih lanjut lagi.
Tak hanya kertas nota, saya juga menemukan botol-botol parfum yang sudah kosong. Sengaja saya simpan karena saya menyukai wanginya dan suatu waktu berniat akan membelinya lagi. Walaupun sudah kosong, masih ada selintas aroma yang menusuk hidung. Selanjutnya, aroma itu akan mengaktifkan sistem memori dalam otak sehingga mengingatkan kembali kisah perjalanan masa lalu. Dengan parfum ini, saya pernah berkunjung ke sana, dan seterusnya, kira-kira begitu.
Kertas dan aroma sebenarnya adalah benda umum yang kerap bersinggungan dengan orang banyak. Akan tetapi, benda-benda tadi melakukan sebuah perjalanan khusus di masa lalu bersama orang-orang tertentu. Hal ini mengakibatkan barang-barang tersebut berubah menjadi portal waktu di masa sekarang yang bisa memutar memori dan membawa seseorang melesat cepat ke masa lalu. Tak heran jika ada beberapa barang yang terasa begitu spesial dan memiliki memori tersendiri bagi orang-orang tertentu.
Akhirnya, saya memutuskan untuk membuang kertas-kertas nota yang menurut saya tak lagi penting, daripada menuh-menuhin saja. Beberapa ada yang harus diikhlaskan. Bagi saya itu tak masalah karena saya tak akan membawa mati kertas-kertas itu. Kalau parfum, saya memutuskan untuk membeli sebotol lagi untuk stok. Stok kenang-kenangan.

.png)

Posting Komentar