Angkringan yang Mendengar

Kemarin, saya membaca artikel dari sebuah portal yang membagikan kabar duka tentang seorang bapak penjual angkringan asal Jogja yang cukup terkenal. Berita itu cukup mengejutkan, terutama bagi mereka yang memiliki kenangan tersendiri dengan angkringan ini. Bahkan, ada beberapa orang yang menceritakan kisah spesial mereka dengan angkringan tersebut secara singkat. Saya sendiri pernah makan beberapa nasi bungkus di angkringan itu bersama satu kawan saya. Waktu itu, saya tengah mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas kuliah saya sehingga meminta bantuan darinya. Setelah rampung, ia mengajak saya untuk makan di angkringan yang berada di dekat gedung olahraga itu. Saya mengambil ragam sate dan mengunyah nasi bungkus lebih dari satu, maklum besar porsi nasi kucing jarang bisa memuaskan perut saya. Dua sajian tadi dilengkapi dengan gorengan yang melengkapi kenikmatan makan siang kala itu. Akhirnya, semua hidangan digenapkan oleh es teh komplet dengan air yang mengucur di bagian luar gelas. Ketika kami membayar pun, kami menunjukkan rona bahagia karena uang kami tak terkuras habis. Kenyang dapat, nikmat dapat, hemat juga dapat. Sayangnya, pada kesempatan itu, kami tak bertemu dengan bapak penjualnya, melainkan seorang perempuan yang mungkin masih memiliki hubungan darah dengan bapak penjual angkringan.

Angkringan identik dengan lokasinya yang berdiri di pinggir jalan. Waktu bukanya pun beragam, ada yang buka dari pagi, ada juga yang buka ketika malam hari. Bicara bentuknya, wujudnya cukup praktis dan bisa dibawa kemana-mana (dengan cara didorong, tetapi ada juga yang bersifat menetap), yakni gerobak besar yang di bagian atas hingga sisi sampingnyanya bisa digelar terpal untuk melindungi orang-orang beserta santapannya dari cuaca yang tak menentu. Menu yang disajikan cukup sederhana, mulai dari nasi kucing, sate-satean, dan gorengan. Harganya pun terbilang cukup murah sehingga sering menjadi andalan bagi anak kos, mahasiswa, juga orang-orang yang sekadar ingin berhemat. Sekadar catatan, mereka yang awam perlu berhati-hati dalam memperlakukan kursi angkringan. Pasalnya, kursinya berbentuk panjang sehingga berkonsep seperti jungkat jungkit di taman kanak-kanak. Ketika orang di ujung kursi beranjak pergi, orang di ujung lainnya bisa-bisa terjungkal karena ketidakseimbangan kursi. Oh iya, itu tadi cerita saya tentang angkringan kecil, ya. Kalau angkringan besar, biasanya gerobaknya lebih lapang dan menetap. Ditambah lagi, menunya lebih beragam dibandingkan angkringan kecil. Untuk menampung banyaknya pengunjung, mereka menyediakan tempat yang luas untuk duduk lesehan. Sangat asyik sebagai tempat bercengkerama bersama kawan dan keluarga, terutama angkringan yang berada di jantung kota Jogja karena adanya nilai plus suasana kota yang menghanyutkan.

Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan. (Joko Pinurbo)

Ada aspek yang menarik dari angkringan, yakni kehangatan. Bukan hanya kehangatan minuman yang tersaji, tetapi lebih dari itu. Orang-orang di angkringan, terutama generasi yang lebih senior, sering duduk cukup lama di angkringan sambil mengisap rokok, minum kopi, atau sekadar basa-basi dengan pengunjung lain. Kalau sepi, ya biasanya berbincang dengan pemilik angkringannya sendiri. Bahkan, ada sekelompok orang yang menghabiskan waktunya di angkringan untuk membahas berbagai hal, mulai dari hal remeh temeh hingga hal yang sepertinya sangat mendesak bagai sebuah kedaruratan yang mencakup keselamatan negeri. Itulah angkringan, selalu hangat dengan caranya sendiri. Oleh karena itu, tidak disediakannya internet di angkringan karena memang begitu peruntukannya.

Saya pertama kali dikenalkan tempat bernama angkringan oleh ayah saya. Saya yang masih kecil dibonceng olehnya di depan badannya bersama motor yang menembus pekatnya malam. Ayah saya memesan jahe hangat, sementara itu saya asyik penasaran dengan sate berlipat-lipat yang di kemudian hari saya menyebutnya dengan nama sate usus. Setelah santapan kami kandas, kami pulang. Saya sangat teringat dengan suasana angkringan pada malam itu. Pembicaraan-pembicaraan yang sukar saya pahami. Lampu teplok yang bersinar temaram. Denting sendok yang diputar beradu dengan bagian dalam gelas untuk mengawinkan gula dengan air. Suara api yang menaikkan suhu minuman guna menghangatkan badan karena dinginnya malam. Demikian penggambaran suasana yang saya alami saat itu.

Masa SMA saya juga dihiasi oleh angkringan yang terletak di depan sekolah saya. Selepas jam olahraga, kami memanggil Pak Supri, penjual angkringan depan sekolah, untuk menggelar dagangannya di gerbang sekolah -- karena kami tak boleh keluar saat jam sekolah berlangsung. Berwadahkan mangkok, kami memindah nasi kucing dari bungkusan dan menuangkan sop buatan Bu Supri yang tak pernah diberi harga alias gratis. Menurut saya, salah satu menu yang paling berkesan adalah gorengan tempe yang diberi kecap lantas dibakar oleh tangan dingin Pak Supri. Saya kadang merindukan makanan itu sehingga sesekali membuatnya sendiri di rumah. Waktu berlalu, akhirnya Pak Supri membuka cabang di kantin sekolahan. Bu Supri bersama seorang rekannya menjajakan makanan dan minuman ala angkringan di sebuah ruangan yang ada di kantin sekolah.

Begitulah, kisah saya dengan angkringan. Sebagai penutup, saya menyisipkan sebuah film berjudul Angkringan yang digarap oleh Traffic Light Pictures.

Posting Komentar